Thursday, 15 October 2020

Tugas Ilmu Budaya Dasar (Biografi Singkat Fidel Castro)



Perlawanan Fidel Castro 

                Berseragam militer, topi hijau, brewok tebal, cerutu di tangan. Seperti itulah gambaran Fidel Castro direkam banyak orang. Ada sebuah lelucon tentang ketenaran The Beatles, band besar asal Inggris yang berbunyi  “Jika ada orang yang tak pernah mendengar nama The Beatles, maka mungkin orang tersebut telah meninggal dunia sebelum The Beatles lahir atau orang itu baru saja datang dari planet Mars ke Bumi”. Barangkali seperti itu juga halnya dengan Fidel Castro. Sejak 1959 ia telah menjadi Perdana Menteri Kuba, dan sejak 1976 ia menjabat sebagai presiden Kuba hingga 2008. Ia adalah pemimpin sebuah negara terlama di bumi.

                Dulu, bersama Presiden Soekarno, ia menjalankan roda Gerakan Non-Blok. Sejak pemerintahan Amerika Serikat dipimpin oleh Eisenhower pada 1960, Fidel telah mengacungkan jari tengahnya kepada negeri “adikuasa dunia” tersebut. Ketika George Washington Bush menjabat sebagai pemimpin Amerika Serikat pun, Fidel tetap dengan lantang berkata, “Imperialisme harus dilawan!”.

                Seperti itulah sosok Fidel Castro, layaknya monumen yang enggan runtuh ketika yang lainnya berjatuhan dihadapan Amerika Serikat, dimulai dari Deng Xiaoping, Peron, Khrushchev, Franco, Tito, bahkan Soekarno. Ia tetap percaya diri memegang semangat nilai yang ia percayai sejak pertama kali menyerang barak militer pemerintah Kuba saat ia masih berusia dua puluhan. Padahal, dari seberang lautan yang mengelilingi negerinya, berganti-ganti presiden Amerika Serikat menghujaninya dengan hujatan, menegaskan bahwa dirinya merupakan sebuah kesalahan yang harus disingkirkan, Amerika Serikat bahkan melegalkan setiap upaya pembunuhan untuknya, bahkan membiayai orang-orang untuk menyerang negaranya. Menghadapi negara adikuasa dunia tersebut, Fidel Castro tetap berdiri, seraya tersenyum dan mengatakan “Jangan salahkan aku jika aku belum mati sekarang”.

                Krisis ekonomi melanda negerinya karena Amerika Serikat menghantamnya dengan embargo ekenomi. Dengan idealis yang dianut, ia membatasi setiap kebutuhan hidup sekaligus menyeimbangkan harga-harga hingga tidak ada persaingan pasar. Dan ia tetap mampu berbangga hati bahwa negerinya adalah sebuah negeri dimana seluruh rakyatnya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang sangat baik secara gratis. Bahwa negaranya memiliki dokter yang teramat banyak yang siap membantu negara manapun yang tertimpa bencana, bahwa negaranya memiliki sarjana-sarjana dengan kualitas mumpuni.

                Dalam pidato di depan para generasi muda di negaranya, ia dengan meyakinkan berkata “Tak ada anak muda lain di dunia ini yang terdidik sebagaimana kalian terdidik, tidak ada anak muda lain di dunia ini yang memiliki banyak ilmuwan, spesialis, insinyur, profesor, guru, dan dokter sebanyak kalian di negeri mereka, Kita adalah negara dengan jumlah guru paling banyak per kapita di seluruh dunia. Apakah kita akan menyerah? Ingatlah tak ada anak muda lain di dunia ini yang memiliki begitu banyak sumber daya!”. Jika ada pemimpin sebuah negara yang berkali-kali nmengalami percobaan pembunuhan dan lebih dari empat dekade menjadi musuh Amerika Serikat, tentu ia adalah pemimpin yang menarik. Fidel Castro, membuktikan hal itu.

                Central Inteligency Agency (CIA) berulang kali memelopori upaya pelenyapan Fidel dari muka bumi. Segala mecam ditempuh, mulai dari memberi racun dan bahan peledak pada cerutu yang biasa ia hisap, memberi dosis kematian LSD, memasukan Potasium Sianida pada susu coklatnya, memberikan infeksi TBC di pakaiannya, ancaman-ancaman pembunuhan pada setiap kunjungan kenegaraan, sampai memberi obat perontok rambut dan jenggot untuk merosotkan wibawa dan kharismanya.

                Pada 26 Juli 1953, jauh sebelum Fidel menjabat sebagai Perdana Menteri atau Presiden, di Fort Moncada ia menyatakan ada enam masalah yang sesegara mungkin harus diselesaikan di Kuba. Masalah-masalah itu adalah masalah tanah, perumahan, industrialisasi, kesehatan, pendidikan, dan pengangguran. Dan saat ia mulai menjabat, masalah-masalah tersebut benar-benar diselesaikan dengan hasil yang menakjubkan.

                Kesehatan di Kuba, misalnya jika dibandingkan dengan Indonesia yang telah merdeka jauh sebelum Fidel menjabat. Angka kematian bayi di Kuba hanya 5,8 per seribu penduduk, dimana di Indonesia kita memiliki 40 per seribu penduduk. Usia harapan hidup di Kuba mencapai angka 76 tahun, dibanding Indonesia yang hanya mencapai angka 66 tahun. Kuba pada tahun 2003 saja telah memiliki 64.000 dokter mumpuni yang siap melayani 12 juta penduduknya, sementara Indonesia hanya memiliiki 34.000 dokter yang dipaksa melayani 210 juta penduduk di tahun itu.

Masing-masing keluarga di Kuba juga diberikan fasilitas dokter pribadi yang memantau kesehatan para anggota keluarga. Seluruh pusat pelayanan kesehatan seperti klinik atau rumah sakit tersedia bagi masyarakat Kuba dengan gratis disertai teknologi canggih. Untuk pendidikan kedokteran, Kuba memiliki  Latin American School of Medicine yang malah menyediakan beasiswa untuk masyarakat miskin dari seluruh Amerika Latin, Afrika, bahkan Amerika Serikat. Tingkat angka buta huruf di Kuba bahkan nol persen.

Revolusi Kuba

Fidel Castro dapat menjadi pemimpin Kuba tidak lain adalah karena ia sukses menjatuhkan presiden Kuba yang saat itu merupakan seorang korup nan diktator, Fulgencio Batista. Dalam rentang 1955-1956, Castro membentuk organisasi revolusinya yang terdiri dari veteran Moncada yang berasal dari AS, Kuba, dan berbagai negara Amerika Latin lainnya, Di Meksiko, mereka menyewa tanah peternakan di luar kota untuk latihan militer. Mereka mendapat disiplin latihan dari seorang shli perang gerilya Spanyol, Alberto Bayo. Di Moroko, Alberto menunjukkan integritasnya yang membuatnya dipercaya Castro untuk melatih pasukan pemberontak yang dibentuknya. Che Guevara, yang baru saja bergabung dengan Castro di Meksiko menjadi murid kesayangan Alberto lantaran bakat perang gerilyanya.

Pada September 1956, Castro membeli kapal untuk membawa rombongannya kembali ke Kuba dari Meksiko untuk menggulingkan pemerintahan Batista. Saat itu ia telah menjadi pemimpin organisasi yang sangat terlatih dan terorganisir namun tak memiiki kapal dan persenjataan yang memadai. Akhirnya ia mendapat kapal bernama Granma, sebuah kapal kecil dengan kapasitas hanya 10 orang. November 1956, Granma dipaksa untuk mengangkut 82 orang plus peralatan dari Meksiko menuju Kuba.

Baru pada 2 Desember 1956, Castro mendarat di Playa de los Colorados, lima belas mil dari titik pendaratan yang direncanakan. Itupun bukanlah pendaratan yang baik, karena kapal tak bisa benar-benar sampai ke pantai dan tak ada dermaga, mereka terpaksa bongkar muatan di rawa penuh lumpur dan belukar dalam keadaan mabuk laut dan harus mengangkut peralatan bawaan mereka, ditambah dengan serombongan tentara Kuba bawahan Batista yang menyambut mereka dengan serangan. Tentu saja rombongan revolusioner itu dibombardir, Che Guevara terkena luka tembakan. Fidel memutuskan memecah rombongan menjadi kelompok-kelompok kecil dan berlindung di kawasan hutan menuju pegunungan Sierra Maestra. Dari 82 orang, hanya 12 yang selamat. Mereka yang selamat adalah yang berhasil bertahan di perkebunan tebu tanpa makanan dan air selama lima hari dan terus berusaha menuju Sierra Maestra. Castro kemudian bertemu Crescencio Perez, seorang bandit dari Sierra Maestra yang kemudian bergabung dengan Castro sekaligus menjadi letnan kepercayaannya. Perez membantu mereka memperoleh makanan dari petani, juga meminjamkan alat-alat pendukung seperti senjata dan amunisi.

Serangan pertama mereka lancarkan ke pos luar tentara di La Plata. Mereka berhasil menggulung pos tentara tersebut sekaligus merebut senjata, amunisi, dan makanan untuk dibawa ke pegunungan. Fidel terus membangun tentaranya, ia memimpin perampokan atas para tuan tanah untuk kemudian dibagikan kepada para petani miskin. Ia memotong sumber utama pendapatan rezim Batista dengan membakar kebun-kebun tebu. Perkebunan tebu yang pertama Castro bakar adalah perkebunan milik keluarganya sendiri. Dengan banyaknya masyarakat yang memutuskan untuk bergabung dengan Castro, ia terus menambah kekuatan di Sierra Maestra dan melancarkan serangan demi serangan hingga menembus pusat kota. Ditambah, para serdadu muda angkatan laut Kuba yang merasa kecewa dengan Batista, memilih untuk bergabung dengan Castro.

Perang kemudian berlanjut dengan kendali berada di tangan pasukan revolusi. Wilayah demi wilayah berhasil Castro taklukan mulai dari Guisa, Maffo, Contramaestre, dan lain-lain. Sementara Castro melakukan penyerangan, Che Guevara dan Camilio Cienfuegos terfokus memimpin sisa pasukan menuju Havana. Dalam perjalanannya, Cienfuegos berhasil menaklukan Yaguajay dimana ia kemudian dijuluki The Hero of Yaguajay. Sedangkan Che menang dengan gelimang dalam pertempuran di Santa Clara.

Di akhir bulan Desember, Batista terdesak dan mengirim Jendral Cantillo untuk berunding dengan Castro, namun Castro menolak perundingan karena salah satu poin yang diajukan adalah membiarkan Batista pergi. Sementara yang Fidel Castro inginkan adalah Batista harus ditangkap dan diadili karena kejahatan selama masa diktatornya terhadap rakyat Kuba.

Tanggal 1 Januari 1959 pukul dua lewat sepuluh dini hari, setelah mendapatkan begitu banyak tekanan dari revolusioner yang dipimpin oleh Castro. Fulgencio Batista, seorang diktator kejam Kuba yang korup, akhirnya melarikan diri bersama keluarga dan antek-anteknya menuju Republik Dominika dengan pesawat.

Fidel Castro berhasil menggulingkan Batista, ia kemudian mengambil alih pemerintahan Kuba. Dan sejak hari itu, 1 Januari diperingati sebagai Hari Revolusi Kuba. Awal kekuasaannya, pada Mei 1959 Fidel Castro mengeluarkan Undang-Undang Reforma Agraria dan mendirikan National Institute of Agrarian Reform. Lahan-lahan yang luasnya lebih dari 460 hektar akan dibagikan kepada para petani yang tidak memiliki tanah. Sementara tanah pertanian milik orang asing dibatasi dengan ketat.

No comments:

Post a Comment

Tugas Ilmu Sosial Dasar (Agama Dalam Masyarakat)

      Menurut saya, agama lumayan berpengaruh besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Bagi warga negara Indonesia, yang merupakan warga d...