Wednesday, 30 September 2020

Anarkisme dalam Tradisi Filsafat dan Politik


 "Kebebasan untuk semua, serta penghormatan alamiah bagi kebebasan tersebut; inilah kondisi-kondisi hakiki bagi solidaritas internasional." -Mikhail Bakunin

     Membicarakan anarkisme sepertinya sulit untuk menghindar dari sejumlah nama-nama besar dalam tradisi filsafat dan politik anarkisme yakni; Pierre Joseph Proudhon, Mikhail Bakunin, Peter Kropotkin, Max Stiner, Leo Tolstoy. Meskipun ada banyak sekali pemikir anarkis yang kemudian mengemuka, namun nama-nama di atas bisa dibilang para pionir yang mengenalkan anarkisme sebagai tradisi politik dan filsafat secara menonjol. Proudhon adalah orang pertama yang menggunakan istilah anarkisme sebagai filsafat politik.


    Seperti juga dalam tradisi pemikiran politik dan filsafat lainnya, anarkisme bukan suatu bentuk pemikiran yang hanya merujuk pada satu tendensi. Secara umum, ada dua tendensi yang dominan dalam tradisi anarkisme, yakni anarkis individual dan anarkis kolektif. Dalam ontologi sosial, keduanya menolak keberadaan subjek yang terpisah dari dunia yang objektif. Artinya, sebagaimana Marx, anarkisme menolak anggapan adanya dunia di luar subjek yang berdiri terpisah dari subjek yang memahami (knowing subject). Dalam aksiologi, keduanya menolak keras otoritas sentral yang memaksakan kepatuhan warganya. Namun secara epistemologis, ada perbedaan yang prinsipil dalam melihat posisi subjek dalam tatanan masyarakat. Perbedaan antara anarkisme individual dan anarkisme kolektif yang pada bagian-bagian selanjutnya diuraikan.


Negara Sebagai Horror


"Dan ada orang-orang seperti kita, yang melihat dalam Negara bukan cuma bentuk aktual dan segala bentuk dominasi yang diembankannya, namun dalam esensinya yang sejati, negara adalah sebuah rintangan bagi revolusi sosial." -Peter Kropotkin


    Anarkisme sebagai filsafat politik revolusioner memiliki banyak perbedaan dalam hal yang diinginkan, disuarakan, asal-usul, dan interpretasi. Dalam anarkisme individualis seperti Max Stiner sampai anarkisme kolektif/komunal milik Bakunin dan Kropotin, anarkisme menyimpan sederet perbedaan karakter, bentuk dari filsafat, dan strategi politik. Namun seluruh perbedaan tersebut disatukan oleh prinsip penolakan dan kritik fundamental terhadap otoritas politik dan segala bentuk-bentuknya. Bagi kaum anarkisme klasik, negara adalah suatu tubuh bagi bagi semua bentuk penindasan, eksploitasi, perbudakan, serta degradasi manusia. Sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata Bakunin.


    "Negara itu seperti rumah jagal raksasa atau kuburan maha luas, dimana semua aspirasi riil, semua daya hidup sebuah negeri masuk dengan murah hati dan suka hati dalam bayang-bayang abstraksi tersebut, untuk membiarkan diri mereka dicincang dan dikubur."
-Bakunin on Anarchism (New York: Black Rose Books, 2002)


    Negara memang merupakan sasaran utama kritik terhadap otoritas dan para anarkis klasik. Bagi kaum anarkis klasik, negara merupakan penindasan fundamental dalam masyarakat, dan karena itu harus dilenyapkan pada saat aksi revolusi yang pertama kali. Bagi kaum anarkis, negara lebih dari sekedar sebuah ekspresi kekuatan kelas dan kekuatan ekonomi. Negara memiliki logika dominasinya sendiri dan merawat dirinya sendiri, dan karena itu negara menjadi otonom terhadap kepentingan kelas. Terlebih lagi, bagi para anarkis, hubungan borjuis sesungguhnya merupakan refleksi dari negara. Menurut Bakunin, kelas penguasa merupakan representasi real material dari negara.


    Di balik setiap kelas penguasa pada setiap zaman, di situ ada negara. Karena negara memiliki logika otonominya sendiri, maka negara tidak pernah dapat dipercaya sebagai alat revolusi sebagaimana argumen kaum Marxis. Kekuasaan negara akan terus-menerus berlanjut dengan cara yang lebih tiranik dan tidak terbatas. Negara tersebut akan bekerja melalui sebuah kelas penguasa baru, sebuah kelas birokratik yang akan menindas dan mengeksploitasi kaum buruh dengan cara yang sama sebagaimana kelas borjuis menindas dan mengeksploitasi mereka.


    Jadi dasar anarkisme menganggap negara sebagai suatu horror yang menyeramkan, bukan dalam pengertian pandangan yang bersifat destruktif atau anti ketata-aturan, melainkan lebih kepada suatu pandangan filosofis dan politis, bahwa ketata-aturan yang diciptakan negara dibangun atas dasar pemaksaan, dengan asumsi bahwa tatanan masyarakat harus diatur dengan cara demikian. Kekuasaan dan otoritas penggunaan alat-alat kekerasan yang melekat pada negara yang dilihat sebagai sumber potensial dan ancaman terhadap kebebasan masyarakat untuk mengatur dirinya sendiri.

Saturday, 26 September 2020

Materialisme Max Stirner dan Karl Marx


    Meskipun Stirner seringkali terlupakan, pencetusan awal materialisme memang biasanya tersisihkan untuk kepentingan sikap individualis anarkis. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas beberapa filosofi materialisme Stirner. Dengan menggunakan gambaran materialisme Marxis sebagai dasar pertama dalam menjelaskan sejarah materialisme, dan dari sini kita akan membahas materialisme Stirner dan bagaimana ia berbeda dari materialisme Marx dan Engels, meskipun mereka murid-murid Hegel, Stirner dianggap lebih anti-Hegelian dibanding Marx.

Bagian Satu

    Pembeda utama antara filosofi materialis radikal dengan Max Stirner dan Karl Marx adalah kolektifisme dan individualisme. Materialisme Marx kebanyakan merupakan materialisme kolektif yang berfokus pada kegiatan manusia. Produk dari kerja manusia dan hubungan yang melibatkan pekerja ketika menjalani tugas-tugas dalam pekerjaannya. Bagi Stirner, materialisme merupakan filosofi individualis yang mengobservasi manusia, pemikiran manusia, dan juga kemanusiaan.


Bagian Dua

    Abstrak komodifikasi (menjadikan sesuatu sebagai komoditas) dan mistifikasi. Bagi Marx, bahkan kebutuhan-kebutuhan pokok seperti makanan dan air telah dijadikan komoditas, bahkan lebih jauh lagi, kehidupan kita telah ditransformasi menjadi sebuah komoditas belaka. Kegiatan yang dilakukan manusia untuk bertahan hidup saat ini terikat dengan keuntungan individu lain, sehingga hubungan sosial antara kaum kapitalis dan proletar, pekerja dan produk telah diubah dari sesuatu yang materialis dan konkret, menjadi abstrak immaterialis. Kesimpulan dari abstraksi ini adalah apa yang dulunya merupakan materi, adalah komodifiksi kegiatan kerja menjadi seperti mainan bagi balita, menggantung diatas kepala pekerja. Produk dsri hasil kerja pekerja menjadi tidak terjangkau untuk pekerja itu sendiri, yang mana menyebabkan para pekerja harus terus-menerus mengejar impian kenaikan upah dan tunjangan yang sulit tercapai.


    Bagi Stirner, komodifikasi, mistifikasi, dan abstraksi sesungguhnya telah terjadi. Namun Stirner lebih berfokus pada manusia dan pemikirannya. Ide bahwa manusia telah dikomodifikasi sepertinya merupakan area dimana Marx dan Stirner saling setuju. Sebab dari komodifikasinya lah yang memisahkan mereka. Dalam pandangan Max Stirner, pemikiran hanyalah produk dari otak, oleh karenanya manusia dalam pemikirannya merupakan hal-hal fisik. Pemikiran adalah individualis. Negara, masyarakat, kemanusiaan, tempat ibadah, dan lainnya berkonotasi "kelompok" daripada "individu" yang mewakili satu fisik.


    Stirner menolak keras ide bahwa institusi-institusi tersebut sebagai sesuatu yang tidak lebih daripada "ketakutan pikiran", konsep imateri dan abstrak yang pantasnya disingkirkan daripad diproklamasikan sebagai "Diriku sendiri adalah kebendaan". Dalam penolakan langsung bahwa kelompok-kelompok demiikian merupakan materialis, Stirner menegaskan bahwa manusia itu sendiri sebagai individu merupakan material jasmani dan nyata, tidak seperti konsep abstrak non-fisik misalnya masyarakat, yang telah disetujui terbangun atau terkonsep dalam pikiran dimana lebih dari sekedar konsep sementara.


     Dari sini cukup adil untuk menyatakan bahwa Stirner menganggap bahwa materialisme Marxis tidak dapat diterima sebagai kegiatan bekerja, produk, dan hal-hal terkait bukanlah material sejak awal. Oleh karenanya hal-hal tersebut tidak dapat diabstraksi. Karena hal-hal tersebut sudah merupakan bentuk abstraksi bagi Stirner. Kita dapat menganggap Stirner menolak Platonisme, tetapi Stirner mengkategorikannya pada tingkat yang lebih tinggi. Hal ini kita anggap saja bahwa penggunaan istilah ego pada nominalisme sosialnya sendiri namun mengabstrasikan mistifikasi upaya komodifikasi manusia. Bagi Stirner, ide bahwa umat manusia memiliki tugas untuk mewujudkan kemanusiaan yang lebih sempurna. Ide ini telah memperbudak manusia.

    Dimana manusianya Marx dikomodifikasikan dalam hubungannya dengan produksi. Stirner menyatakan bahwa manusia dikomodifikasikan terus-menerus oleh ide kesempurnaan ilahiah dari kemanusiaan. Dimana hal ini dibebankan pada ibaratnya sesuatu yang dalam angan namun tidak terjangkau dan politik masyarakat. Negara dan lembaga yang tidak berbentuk. Sehingga kemanusiaan telah menjadi abstraksi.

    Tidak lagi berpijak pada realitas, namun lebih kepada konsep utopia yang tidak mungkin tercapai. Dalam substraksi tersebut kemanusiaan kita telah dicuri dari kita sendiri, dan nyatanya telah menjadi musuh. Apa yang sebelumnya begitu pasti bagi manusia telah menjadi mistis abstrak dan tidak hanya dibebankan pada manusia, namun juga dapat digunakan sebagai hukuman apabila manusia tidak dapat memenuhi kaidah kesempurnaannya.

Tugas Ilmu Sosial Dasar (Agama Dalam Masyarakat)

      Menurut saya, agama lumayan berpengaruh besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Bagi warga negara Indonesia, yang merupakan warga d...