Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu buddhayah. Merupakan sebuah bentuk jamak dari buddhi(budi atau akal) dan daya(kemampuan manusia untuk melakukan sesuatu). Jadi dapat disimpulkan budaya atau kebudayaan adalah sebuah keadaan dimana manusia melakukan sesuatu yang sesuai dengan budi dan akal sehat.
Menurut saya, teknologi dapat memberikan banyak dampak positif sekaligus negatif terhadap penggunanya. Perkembangan teknologi yang sangat cepat, seringkali mencapai titik yang bertolakbelakang dengan nilai kebudayaan atau adat istiadat yang diajarkan orang tua kita. Contoh kecilnya adalah, saat kecil kita terpaksa meninggalkan budaya kejujuran saat memasukkan umur untuk membuat akun sosial media yang terbatas untuk usia 17 tahun keatas. Dengan permulaan hal-hal negatif yang terkesan sepele tersebut, justru akan menumbuhkan sifat menyepelekan kebudayaan yang luhur, sehingga dapat berujung pada kebohongan yang lebih besar, bahkan dalam beberapa kasus, dampak dari teknologi yang tidak disaring kembali dengan nilai-nilai budaya karena telah disepelekan dapat berakibat fatal.
Dalam kesempatan ini, saya akan memberikan contoh implementasi pelanggaran salah satu kebudayaan, yaitu kejujuran. Dimana pelanggaran moral tersebut dilakukan dengan teknologi canggih.
Terdapat sebuah kasus di Florida, dimana karena sebuah penyalahgunaan teknologi yang berakhir tragis bagi penggunanya dan orang-orang di sekitarnya. Grant Amato, adalah seorang pemuda pengangguran yang baru saja dipecat karena penggelapan obat-obatan dari rumah sakit tempatnya bekerja. Ia mulai mengisi waktu kosongnya dengan bertamasya di internet, yang seperti sudah disebutkan diatas, kemajuan teknologi yang tidak disaring kembali dapat memberikan dampak negatif.
Keluarga Amato tinggal di Chuluota, Florida. Dimana pasangan Chad Amato dan Margaret Amato memiliki 3 orang anak, yaitu Jason, Cody, dan Grant. Jason si anak sulung telah hidup mandiri dengan istri dan anak-anaknya. Sementara Cody dan Grant meskipun sudah sama-sama bekerja di suatu rumah sakit, mereka tetap tinggal bersama orang tuanya. Hingga akhirnya Grant dipecat karena terbukti telah menyelundupkan berbagai obat bius dari rumah sakit. Menjadi pengangguran di rumah, ia hanya berselancar di internet, bermain game online, sampai ia menemukan sebuah situs dewasa dengan pelayanan gadis-gadis lewab webcam.
Grant mulai kecanduan seks online, bahkan rela mengeluarkan uang ratusan ribu dolar untuk seorang model yang akan ia lihat lewat webcam, ia berkenalan dengan seorang wanita bernama Silvie yang berasal dari Bulgaria. Grant yang benar-benar telah dimabukkan oleh pesona gadis webcam tersebut, tak keberatan mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk Silvie. Dimana harga untuk satu menit pelayanan Silvie di webcam, dipatok dengan harga 90 token, atau dalam satu jam Grant bisa menghabiskan 5.400 token. Sedangkan, harga 5.000 token di situs tersebut adalah 600 dolar (8,5 juta rupiah), dan Grant dalam semalam bisa mengbabiskan waktu 3-4 jam dengan Silvie karena kecanduannya.
Tentu saja seorang pengangguran seperti Grant tidak memiliki uang untuk itu, uang yang ia gunakan adalah uang yang dicurinya dari kartu kredit orang tuanya dan Cody, kakaknya. Saat perilaku Grant terbongkar karena penggunaan uang yang melewati batas, keluarganya masih memutuskan untuk memberinya kesempatan dan memaafkannya. Bahkan Cody sebagai kakak mengajaknya untuk liburan ke luar negeri agar ia dapat melupakan pujaan hatinya di situs tersebut.
Namun, kembali dari luar negeri ia kembali menghabiskan pundi-pundi uang untuk gadis maya tersebut yang berakibat kemurkaan ayahnya. Grant memutuskan untuk kabur ke rumah bibinya, Donna Amato. Menurut pengakuan bibinya, kegiatan Grant di sana hanya tidur sepanjang siang dan begadang di depan laptop sepanjang malam. Hingga akhirnya Donna menemukan tagihan-tagihan rekening sementara ia tidak membeli apa-apa, ternyata seolah tak tahu terimakasih, di sana Grant juga mencuri uang dari kartu kredit bibi, paman, sepupu, bahkan neneknya.
Mendapat laporan tersebut, Chad langsung menelpon Donna dengan tangisan untuk memohon agar Donna tidak menuntut anaknya ke pengadilan. Ia bahkan menggadai rumahnya untuk melunasi hutang yang dibuat oleh ulah anaknya. Masih belum lunas, Chad yang di usianya seharusnya sudah pensiun terpaksa mengambil dua pekerjaan sekaligus untuk membayar sisa hutangnya.
Cody sang kakak telah mencoba berbagai cara untuk membantu masalah-masalah yang disebabkan adiknya. Ia telah menghabiskan 8 ribu dolar (112 juta rupiah) untuk pengacara saat Grant terlibat masalah penyelundupan obat di rumah sakit, 10 ribu dolar (140 juta rupiah) untuk mengajaknya ke luar negeri, dan 15 ribu dolar (211 juta rupiah) untuk panti rehabilitasi kecanduan seks adiknya. Walau menghabiskan biaya yang begitu banyak, Grant kabur sebelum menyelesaikan rehabnya dan kembali menghubungi Silvie. Hal itu tentu saja membuat Chad sang ayah memarahinya habis-habisan.
Pada 25 Januari, polisi mendobrak masuk rumah keluarga Amato setelah mendapat laporan dari tempat kerja Cody yang khawatir karena dirinya tidak kunjung masuk kerja tanpa keterangan. Polisi lamgsung menemukan jenazah Cody di garasi, masih menggunakan seragam rumah sakit. Ayahnya, Chad ditemukan di ruang tamu. Sementara ibunya, ditemukan dalam kondisi yang sama di kamarnya. Mereka semua tewas tertembak. Dan tuduhan langsung mengarah pada Grant yang menghilang.
Setelah berhasil melacak Grant dan menangkapnya. Dari hasil introgasi polisi, diketahui malam saat ayahnya memarahinya, ia mengambil pistol kemudian membunuh ibunya. Kemudian, menunggu ayahnya masuk ke rumah dan langsung melakukan hal yang sama. Padahal ayahnya sampai harus bekerja di dua pekerjaan sekaligus di usia pensiunnya agar anaknya tidak dituntut ke pengadilan. Terakhir, ia menunggu kakaknya pulang dan membunuh juga kakaknya yang sudah menghabiskan uang ratusan juta untuk membantu kehidupannya.
Kini karena dampak negatif dari teknologi yang awalnya mungkin disepelekannya, telah membawanya pada sebuah kesalahan yang sulit dimaafkan, yaitu membunuh kedua orang tua dan kakaknya sendiri. Pada 2019, Grant akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup dan dijamin tidak akan mendapatkan akses internet lagi di sisa hidupnya.
Setidaknya, mungkin tanpa teknologi yang mumpuni di dalam penjara, ia akhirnya dapat sembuh dari kecanduannya. Hal yang menjadi keinginan terakhir mendiang keluarganya. Menurut saya, kisah Grant dapat kita jadikan pelajaran agar kita dapat lebih pandai menggunakan teknologi dengan positif yang sesuai dengan kebudayaan kita dan menyaring hal-hal negatif yang melanggar kebudayaan.