Saturday, 31 October 2020

Kematian Sebuah Ideologi Politik

 "Ada hantu berkeliaran di Eropa, hantu komunisme"

    Begitulah kata-kata pembukaan Manifesto Komunis, dokumen Marxisme paling termasyhur yang ditulis Friedrich Engels dan Karl Marx pada akhir 1847. Dan benar saja, dalam abad ke-20 komunisme telah menjadi hantu umat manusia. Selama sebagian besar abad ini, komunisme menjadi salah satu kekuasaan politik dan ideologis paling dahsyat di dunia. Sepertiga umat manusia pernah hidup di bawah benderanya. Hampir tak ada negara di dunia ini dimana partai komunis tidak pernah secara langsung atau tidak langsung mencoba merebut kekuasaan, Indonesia pun pernah mengalaminya.

    Namun pada akhir abad ke-20, hantu komunisme tampak kehilangan wahyunya. Kiranya pukulan pertama yang diderita oleh komunisme internasional pada masa kejayaannya adalah kehancuran Partai Komunis Indonesia sebagai buntut kudeta Gerakan 30 September. Sepuluh tahun kemudian, pada 1975, komunisme mencapai kemenangannya yang terakhir di Vietnam. Namun, itu juga merupakan saat kemunduran kekuatan komunisme yang tidak dapat disembunyikan lagi. Di Eropa Barat, beberapa partai komunis didahului oleh Partai Komunis Italia, memutuskan untuk membuang Leninisme, inti sari komunisme, dan menggantikannya dengan sesuatu yang baru yang mereka sebut Euro-komunisme.

    Di tahun 80-an, komunisme dan Marxisme mulai semakin kelihatan sebagai kekuatan masa lampau yang kini semakin ketinggalan zaman. Buku-buku Marx, Lenin, dan Mao Tse-dong yang selama tahun 60-an sampai 70-an memenuhi toko-toko buku di sekitar universitas-universitas di Barat, sudah masuk kembali ke gudang. Sedangkan di Asia dan Afrika, sukuisme, regionalisme, dan fundamentalisme agama semakin menyingkirkan Marxisme dan komunisme sebagai ideologi berbagai perjuangan revolusioner.

    Akhir sistem kekuatan komunis datang dengan sangat cepat. Pada 1989, dalam hanya beberapa bulan satu demi satu rezim-rezim komunis di Eropa Timur runtuh, pada awalnya Polandia, Bulgaria, Jerman Timur, Cekoslovakia, dan akhirnya Rumania. Pakta warsawa bubar dalam sekejap. Dua tahun kemudian Partai Komunis di Uni Soviet harus melepas monopoli kekuasaannya yang telah menjadi ciri khas Soviet selama 73 tahun. Pada akhir 1991, Uni Soviet sebagai negara adikuasa kedua pecah menjadi 14 republik independen. Hanya menyisakan China, Laos, Korea Utara, Vietnam, dan Kuba dimana rezim-rezim komunis masih berhasil berpegang pada kekuasaan. Namun mereka berhadapan dengan pilihan dilematis, mengubah perekonomian menjadi ekonomi pasar dengan meninggalkan sosialisme, atau semakin ketinggalan zaman mirip fosil dari Jurassic Park.

Pemikiran Marx Tetap Menantang

    Meskipun kekuatan komunisme sudah pudar dan pancaran intelektual pemikiran Marx telah meredup, pemikiran yang telah sedemikian terasa di sebagian besar dunia ini tetap menuntut perhatian. Saat tantangannya tidak lagi terasa secara langsung, pemikiran yang masuk ke dalam Marxisme dan komunisme justru perlu diteliti mengapa sampai dapat sedemikian berpengaruh.

    Hal itu khususnya berlaku pada pemikiran Marx itu sendiri, pemikirannya bukan saja menjadi inspirasi dasar Marxisme sebagai ideologi perjuangan kaum buruh, bukan saja menjadi komponen inti dalam ideologi komunisme. Pemikiran Marx juga menjadi salah satu rangsangan besar bagi perkembangan sosiologi, ilmu ekonomi, dan filsafat kritis. Sementara ini banyak kategori pemikiran Marx sudah memasuki kawasan filsafat dan ilmu-ilmu sosial, bahkan dalam dikursus politik, sosial, ekonomi, dan budaya kaum intelektual hampir di seluruh dunia.

    Ada satu unsur yang khas bagi pemikiran Marx, pemikirannya yang tidak tinggal dalam wilayah teori, melainkan sebagai ideologi Marxisme menjadi sebuah kekuatan sosial bahkan politik. Marx mengembangkan sebuah pemikiran yang pada dasarnya filosofis namun kemudian menjadi teori perjuangan sekian banyak generasi berbagai gerakan pembebasan. Bahkan sekaliber nama Immanuel Kant sebagai filosof paling berpengaruh 500 tahun lalu pun hanya dikenal oleh para filosof dan segelintir kalangan intelektual. Tetapi nama Marx telah dikenal di mana-mana dan dalam semua lapisan masyarakat, serta menjadi simbol perjuangan sekurang-kurangnya bagi dua milyar orang.

    Marx sendiri memang tidak pernah memahami pemikirannya sebagai usaha teoritis-intelektual semata-mata, melainkan sebagai usaha nyata dan praktis untuk menciptakan kondisi-kondisi kehidupan yang lebih baik. Marx yang selalu menuntut agar filsafat menjadi praktis, yang dalam artiannya agar filsafat menjadi sebuah pendorong perubahan sosial.

    Marx merumuskan programnya itu dalam tesis No. 11 tentang Feuerbach yang termasyhur, "Para filosof hanya memberikan interpretasi yang berbeda kepada dunia. Yang kita perlukan adalah mengubahnya!" [TF, MEW 3,7]. Karena itu pemikiran Marx tetap merupakan tantangan bagi filsafat yang perlu dikaji secara kritis dan dijadikan bahan dikursus.

Sunday, 25 October 2020

Tugas Bahasa Inggris (Unforgottable Moment)

 “Unforgottable Moment”

MALAM KEAKRABAN SMAN 104 Jakarta

 

       This is my story about event of MAKRAB SMAN 104 Jakarta, I want to tell about my experience in that event. There is so much reason why that day become the day I cant forget, especially because I was the chairman of that event. That event has been held at  a villa in in South Jakarta. In preparation, me and my fiends in committees of the event were busy in process to complete some various things that we needed, including big banner for participant signatures, some stickers, a lot of game equipments, game prizes, sound system, lantern, and others.

My committee for that event has 46 members include me which is divided in several divisions, including chairman, vice chairman, treasurer, security, consumption, equipment, and documentation. The event was started at 3 PM, begins with participant registration, where participants are given sticker from the committee and opportunity to sign a banner. after all participants have registered, the event was continued with the chairman's speech. That was a very thrilling moment for me, because at that time I hasnt be able to speak in front of many people.

After that, we all played some games to refresh an atmosphere. Too bad because I don't remember most of the games we played. We take so much of pictures, many videos, the only one in our head is we are all free to have fun in this event, and I really enjoyed that time. We were do so much fun thing till 6 PM. At 6 PM, we were stopped playing and start to take a rest, eat, and pray.

Then, when the sky becomes dark, we all went out to the garden, equipment division was already set some sound system in the garden so our next part were singing and dancing together in the garden, after that we raised a few lanterns to the sky to indicate the end of the event. When finished, all participants were go back to their home.

When all participant already not at the villa. We the committees immediately started so swimming, some of the committee took out the drinks they prepared before. We were started to have fun again in this part, we are singing again, dancing, swimming, and drinking in that night. We enjoyed that night just like we own the whole world

That was the day I cant forget. I never imagined that day, because I thought it was the most successful event I have ever make. On that day we strengthened our friendship, and decided to change our “friendship” in to a “brotherhood”.

Tugas Bahasa Inggris (Favorite Person)

   I’m Rahiel Hafizh. I want to tell about my favorit person. For my favorit person I want to talk about is Soekarno. First, I like his personality, mindset, and a way he lead this country. A reason I liked his personality is because he was a person that you can found a courage, charisma, assertiveness, and nobility in the one person. Ir. Soekarno was an Indonesian politician, who was be the first President in Indonesia. He serve as a president from 1945-1967, he was the leader of the Indonesian struggle for independence from colonialism. He was born in June 6 1901 in Blitar. I admire his courage to lead a fight back againts colonialism.

    Soekarno was an educated man who have an assertiveness in leading his people. He proved his integrity for Indonesia in often times. He is one of those people who formulated Pancasila. When he served as President Indonesia, he make much of achievement.Among other is recaptured Papua Barat in 1961, build a Monumen Nasional, form a strong military in Indonesia, make Indonesia to be a respected nation because his courage againts big country like America. Soekarno was an originator for Koferensi Asia Afrika too, and he form a non-aligned movement in there, that make he became a person who was reckoned by other country.

Tugas Bahasa Inggris (Paragraph About Myself)

 Assalamualaikum wr.wb.

            My fullname is Rahiel Hafizh, aand people usually call me El. I live in Condet, Jakarta Timur and I from SMAN 104 Jakarta. After graduated from SMAN 104 Jakarta, I want to continue my studies in Universitas Negeri Jakarta, but my score in SBMPTN is not enough to get in there.

            So after that, I try to sign up in STKIP PB Soedirman Jakarta and I accepted there. But STKIP is only have C in their accreditation. So I choose to try sign up in Gunadarma University, and now I was doing my first task in Gunadarma University. I’ll try my best here because I want to graduated as fast as I can. In here, I choose Teknik Informatika as my major, because I think there will be so many experience that I can get from this major. I want to have more skill in Informatika.

            My dream job is being a teacher, especially a sport teacher because I think that I have an expert skill in sport, I think that my passion is in physical task. But in Gunadarma University I choose Teknik Informatika because I want to add a new skill in myself. I think its great to still can do my hobby and add a new skill in the same time.

Wassalamualaikum wr.rb

Thursday, 15 October 2020

Tugas Ilmu Budaya Dasar (Biografi Singkat Fidel Castro)



Perlawanan Fidel Castro 

                Berseragam militer, topi hijau, brewok tebal, cerutu di tangan. Seperti itulah gambaran Fidel Castro direkam banyak orang. Ada sebuah lelucon tentang ketenaran The Beatles, band besar asal Inggris yang berbunyi  “Jika ada orang yang tak pernah mendengar nama The Beatles, maka mungkin orang tersebut telah meninggal dunia sebelum The Beatles lahir atau orang itu baru saja datang dari planet Mars ke Bumi”. Barangkali seperti itu juga halnya dengan Fidel Castro. Sejak 1959 ia telah menjadi Perdana Menteri Kuba, dan sejak 1976 ia menjabat sebagai presiden Kuba hingga 2008. Ia adalah pemimpin sebuah negara terlama di bumi.

                Dulu, bersama Presiden Soekarno, ia menjalankan roda Gerakan Non-Blok. Sejak pemerintahan Amerika Serikat dipimpin oleh Eisenhower pada 1960, Fidel telah mengacungkan jari tengahnya kepada negeri “adikuasa dunia” tersebut. Ketika George Washington Bush menjabat sebagai pemimpin Amerika Serikat pun, Fidel tetap dengan lantang berkata, “Imperialisme harus dilawan!”.

                Seperti itulah sosok Fidel Castro, layaknya monumen yang enggan runtuh ketika yang lainnya berjatuhan dihadapan Amerika Serikat, dimulai dari Deng Xiaoping, Peron, Khrushchev, Franco, Tito, bahkan Soekarno. Ia tetap percaya diri memegang semangat nilai yang ia percayai sejak pertama kali menyerang barak militer pemerintah Kuba saat ia masih berusia dua puluhan. Padahal, dari seberang lautan yang mengelilingi negerinya, berganti-ganti presiden Amerika Serikat menghujaninya dengan hujatan, menegaskan bahwa dirinya merupakan sebuah kesalahan yang harus disingkirkan, Amerika Serikat bahkan melegalkan setiap upaya pembunuhan untuknya, bahkan membiayai orang-orang untuk menyerang negaranya. Menghadapi negara adikuasa dunia tersebut, Fidel Castro tetap berdiri, seraya tersenyum dan mengatakan “Jangan salahkan aku jika aku belum mati sekarang”.

                Krisis ekonomi melanda negerinya karena Amerika Serikat menghantamnya dengan embargo ekenomi. Dengan idealis yang dianut, ia membatasi setiap kebutuhan hidup sekaligus menyeimbangkan harga-harga hingga tidak ada persaingan pasar. Dan ia tetap mampu berbangga hati bahwa negerinya adalah sebuah negeri dimana seluruh rakyatnya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang sangat baik secara gratis. Bahwa negaranya memiliki dokter yang teramat banyak yang siap membantu negara manapun yang tertimpa bencana, bahwa negaranya memiliki sarjana-sarjana dengan kualitas mumpuni.

                Dalam pidato di depan para generasi muda di negaranya, ia dengan meyakinkan berkata “Tak ada anak muda lain di dunia ini yang terdidik sebagaimana kalian terdidik, tidak ada anak muda lain di dunia ini yang memiliki banyak ilmuwan, spesialis, insinyur, profesor, guru, dan dokter sebanyak kalian di negeri mereka, Kita adalah negara dengan jumlah guru paling banyak per kapita di seluruh dunia. Apakah kita akan menyerah? Ingatlah tak ada anak muda lain di dunia ini yang memiliki begitu banyak sumber daya!”. Jika ada pemimpin sebuah negara yang berkali-kali nmengalami percobaan pembunuhan dan lebih dari empat dekade menjadi musuh Amerika Serikat, tentu ia adalah pemimpin yang menarik. Fidel Castro, membuktikan hal itu.

                Central Inteligency Agency (CIA) berulang kali memelopori upaya pelenyapan Fidel dari muka bumi. Segala mecam ditempuh, mulai dari memberi racun dan bahan peledak pada cerutu yang biasa ia hisap, memberi dosis kematian LSD, memasukan Potasium Sianida pada susu coklatnya, memberikan infeksi TBC di pakaiannya, ancaman-ancaman pembunuhan pada setiap kunjungan kenegaraan, sampai memberi obat perontok rambut dan jenggot untuk merosotkan wibawa dan kharismanya.

                Pada 26 Juli 1953, jauh sebelum Fidel menjabat sebagai Perdana Menteri atau Presiden, di Fort Moncada ia menyatakan ada enam masalah yang sesegara mungkin harus diselesaikan di Kuba. Masalah-masalah itu adalah masalah tanah, perumahan, industrialisasi, kesehatan, pendidikan, dan pengangguran. Dan saat ia mulai menjabat, masalah-masalah tersebut benar-benar diselesaikan dengan hasil yang menakjubkan.

                Kesehatan di Kuba, misalnya jika dibandingkan dengan Indonesia yang telah merdeka jauh sebelum Fidel menjabat. Angka kematian bayi di Kuba hanya 5,8 per seribu penduduk, dimana di Indonesia kita memiliki 40 per seribu penduduk. Usia harapan hidup di Kuba mencapai angka 76 tahun, dibanding Indonesia yang hanya mencapai angka 66 tahun. Kuba pada tahun 2003 saja telah memiliki 64.000 dokter mumpuni yang siap melayani 12 juta penduduknya, sementara Indonesia hanya memiliiki 34.000 dokter yang dipaksa melayani 210 juta penduduk di tahun itu.

Masing-masing keluarga di Kuba juga diberikan fasilitas dokter pribadi yang memantau kesehatan para anggota keluarga. Seluruh pusat pelayanan kesehatan seperti klinik atau rumah sakit tersedia bagi masyarakat Kuba dengan gratis disertai teknologi canggih. Untuk pendidikan kedokteran, Kuba memiliki  Latin American School of Medicine yang malah menyediakan beasiswa untuk masyarakat miskin dari seluruh Amerika Latin, Afrika, bahkan Amerika Serikat. Tingkat angka buta huruf di Kuba bahkan nol persen.

Revolusi Kuba

Fidel Castro dapat menjadi pemimpin Kuba tidak lain adalah karena ia sukses menjatuhkan presiden Kuba yang saat itu merupakan seorang korup nan diktator, Fulgencio Batista. Dalam rentang 1955-1956, Castro membentuk organisasi revolusinya yang terdiri dari veteran Moncada yang berasal dari AS, Kuba, dan berbagai negara Amerika Latin lainnya, Di Meksiko, mereka menyewa tanah peternakan di luar kota untuk latihan militer. Mereka mendapat disiplin latihan dari seorang shli perang gerilya Spanyol, Alberto Bayo. Di Moroko, Alberto menunjukkan integritasnya yang membuatnya dipercaya Castro untuk melatih pasukan pemberontak yang dibentuknya. Che Guevara, yang baru saja bergabung dengan Castro di Meksiko menjadi murid kesayangan Alberto lantaran bakat perang gerilyanya.

Pada September 1956, Castro membeli kapal untuk membawa rombongannya kembali ke Kuba dari Meksiko untuk menggulingkan pemerintahan Batista. Saat itu ia telah menjadi pemimpin organisasi yang sangat terlatih dan terorganisir namun tak memiiki kapal dan persenjataan yang memadai. Akhirnya ia mendapat kapal bernama Granma, sebuah kapal kecil dengan kapasitas hanya 10 orang. November 1956, Granma dipaksa untuk mengangkut 82 orang plus peralatan dari Meksiko menuju Kuba.

Baru pada 2 Desember 1956, Castro mendarat di Playa de los Colorados, lima belas mil dari titik pendaratan yang direncanakan. Itupun bukanlah pendaratan yang baik, karena kapal tak bisa benar-benar sampai ke pantai dan tak ada dermaga, mereka terpaksa bongkar muatan di rawa penuh lumpur dan belukar dalam keadaan mabuk laut dan harus mengangkut peralatan bawaan mereka, ditambah dengan serombongan tentara Kuba bawahan Batista yang menyambut mereka dengan serangan. Tentu saja rombongan revolusioner itu dibombardir, Che Guevara terkena luka tembakan. Fidel memutuskan memecah rombongan menjadi kelompok-kelompok kecil dan berlindung di kawasan hutan menuju pegunungan Sierra Maestra. Dari 82 orang, hanya 12 yang selamat. Mereka yang selamat adalah yang berhasil bertahan di perkebunan tebu tanpa makanan dan air selama lima hari dan terus berusaha menuju Sierra Maestra. Castro kemudian bertemu Crescencio Perez, seorang bandit dari Sierra Maestra yang kemudian bergabung dengan Castro sekaligus menjadi letnan kepercayaannya. Perez membantu mereka memperoleh makanan dari petani, juga meminjamkan alat-alat pendukung seperti senjata dan amunisi.

Serangan pertama mereka lancarkan ke pos luar tentara di La Plata. Mereka berhasil menggulung pos tentara tersebut sekaligus merebut senjata, amunisi, dan makanan untuk dibawa ke pegunungan. Fidel terus membangun tentaranya, ia memimpin perampokan atas para tuan tanah untuk kemudian dibagikan kepada para petani miskin. Ia memotong sumber utama pendapatan rezim Batista dengan membakar kebun-kebun tebu. Perkebunan tebu yang pertama Castro bakar adalah perkebunan milik keluarganya sendiri. Dengan banyaknya masyarakat yang memutuskan untuk bergabung dengan Castro, ia terus menambah kekuatan di Sierra Maestra dan melancarkan serangan demi serangan hingga menembus pusat kota. Ditambah, para serdadu muda angkatan laut Kuba yang merasa kecewa dengan Batista, memilih untuk bergabung dengan Castro.

Perang kemudian berlanjut dengan kendali berada di tangan pasukan revolusi. Wilayah demi wilayah berhasil Castro taklukan mulai dari Guisa, Maffo, Contramaestre, dan lain-lain. Sementara Castro melakukan penyerangan, Che Guevara dan Camilio Cienfuegos terfokus memimpin sisa pasukan menuju Havana. Dalam perjalanannya, Cienfuegos berhasil menaklukan Yaguajay dimana ia kemudian dijuluki The Hero of Yaguajay. Sedangkan Che menang dengan gelimang dalam pertempuran di Santa Clara.

Di akhir bulan Desember, Batista terdesak dan mengirim Jendral Cantillo untuk berunding dengan Castro, namun Castro menolak perundingan karena salah satu poin yang diajukan adalah membiarkan Batista pergi. Sementara yang Fidel Castro inginkan adalah Batista harus ditangkap dan diadili karena kejahatan selama masa diktatornya terhadap rakyat Kuba.

Tanggal 1 Januari 1959 pukul dua lewat sepuluh dini hari, setelah mendapatkan begitu banyak tekanan dari revolusioner yang dipimpin oleh Castro. Fulgencio Batista, seorang diktator kejam Kuba yang korup, akhirnya melarikan diri bersama keluarga dan antek-anteknya menuju Republik Dominika dengan pesawat.

Fidel Castro berhasil menggulingkan Batista, ia kemudian mengambil alih pemerintahan Kuba. Dan sejak hari itu, 1 Januari diperingati sebagai Hari Revolusi Kuba. Awal kekuasaannya, pada Mei 1959 Fidel Castro mengeluarkan Undang-Undang Reforma Agraria dan mendirikan National Institute of Agrarian Reform. Lahan-lahan yang luasnya lebih dari 460 hektar akan dibagikan kepada para petani yang tidak memiliki tanah. Sementara tanah pertanian milik orang asing dibatasi dengan ketat.

Sunday, 11 October 2020

Tugas Budaya Dasar (Penyesuaian Diri Terhadap Perubahan Kebudayaan)

Perubahan Kebudayaan dan Penyesuaian Diri antar Budaya pada Hubungan Manusia dan Kebudayaan

    Seiring dengan perkembangan zaman, kita tentu akan berhadapan dengan budaya baru dipandang sebagai pengalaman menarik dan menyenangkan. Selain itu, dengan adanya tuntutan akan mengimbangi perkembangan zaman itulah kita dituntut untuk mempelajari beragam budaya baru baik budaya dari dalam maupun luar negeri. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan mempelajari budaya-budaya adalah kita dapat meningkatkan wawasan, dapat membangun kepercayaan diri dalam menguasai kemampuan baru,  pengembangan diri, mampu memelajari diri sendiri, serta mampu meningkatkan kemampuan dalam mengatasi situasi yang abstrak.

    Dengan alasan di atas itulah, masyarakat dan kebudayaan di daerah manapun suatu saat akan mengalami perubahan dengan mengadaptasi perkembangan kebudayaan dunia yang begitu luas. Sekalipun masyarakat dan kebudayaan tersebut merupakan primitif atau jauh dari perkembangan budaya di daerah-daerah pusat.

    Perubahan-perubahan ini umumnya terjadi karena berkembangnya jumlah penduduk di daerah tersebut, yang tentu saja akan menuntut perkembangan komposisi dalam kemasyarakatan, hubungan masyarakat satu daerah dengan daerah lain, terciptanya penemuan-penemuan baru, kemajuan teknologi, dan inovasi dalam kebudayaan itu sendiri. Dimana perubahan kebudayaan umumnya juga disertai atau diawali dengan perubahan sosial.

    Dalam perubahan sosial yang terdiri dari perubahan struktur sosial masyarakat, perubahan pola kehidupan sosial antara lain perubahan status, tatanan masyarakat, hubungan antar keluarga, sistem politik, dan pemerintahan. Yang tentu saja akan disusul dengan perubahan kebudayaan yang terjadi dalam sistem ide yang dimiliki sejumlah masyarakat, perubahan aturan-aturan, norma-norma, perkembangan  teknologi, selera, kesenian, dan bahasa. Walaupun perubahan sosial dan perubahan kebudayaan itu berbeda, pembahasan kedua perubahan itu tidak akan mencapai suatu pengertian yang benar tanpa mengaitkan keduanya.

    Meski demikian, beberapa perubahan kebudayaan dalam konteks tertentu dapat ditolak oleh masyarakat setempat. Saat kebudayaan atau perkembangan tersebut dirasa tidak cocok untuk diadaptasi oleh masyarakat daerah tersebut. Dalam perubahan kebudayaan, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsur kebudayaan baru diantaranya:

1. Terbiasa atau tidaknya masyarakat memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dan dengan orang-orang yang mengenalkan kebudayaan dari luar masyarakat tersebut.

2. Pendangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai agama, maka apabila ditemukan pertentangan dengan nilai agama, penerimaan unsur-unsur baru itu akan mengalami kelambatan dan harus disensor dulu oleh berbagai ukuran yang berlandaskan ajatan agama yang berlaku.

3. Kecocokan kebudayaan yang baru dikenalkan dengan corak struktur sosial suatu masyarakat.

4. Skala manfaat dan kegiatan yang dapat dihasilkan dalam masyarakat dari kebudayaan baru tersebut

    Unsur-unsur kebudayaan yang dimaksud disini dapat memiliki arti yang meliputi semua kebudayaan dalam masyarakat tersebut sekaligus kebudayaan global, dari kebudayaan dalam masyarakat kecil, menengah, maupun yang kompleks. Menurut konsepnya, kebudayaan di dunia ini meliputi tujuh unsur yang universal, antara lain bahasa, sistem teknologi, mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pendidikan, religi, dan kesenian.

    Tentu saja karena kita termasuk dalam masyarakat dimana akan menghadapi perubahan dan perkembangan kebudayaan tersebut, kita harus memahami dan mampu memilih kebudayaan baru yang dapat kita serap serta kita manfaatkan, sekaligus menolak kebudayaan yang memiliki sifat bertentangan dengan nilai luhur nenek moyang atau nilai-nilai agama yang kita anut.

Tugas Sosial Dasar (Kebudayaan Suku Betawi)

     Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo (sebuah campuran budaya dari berbagai etnis). Jakarta yang merupakan ibukota Indonesia menarik banyak pendatang baik dari dalam maupun luar nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk nusantara, Jakarta juga banyak menyerap budaya dari luar negeri seperti Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.

    Orang Betawi memiliki kepribadian dengan jiwa sosial yang sangat tinggi, sehingga kadang dalam beberapa hal cenderung terkesan berlebihan dan tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama mereka yang terlihat dari tegasnya para orang tua menanamkan ajaran agama kepada anak-anaknya. Mereka juga menghormati budaya yang diwariskan dari para leluhurnya. Terlihat dari perilaku masyarakatnya yang masih menyukai permainan lenong, ondel-ondel, gambang kromong, pencak silat, dan lain-lain.

Ondel-ondel Salah Satu Warisan Budaya Betawi

    Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan masyarakat Betawi yang sering ditampilkan sebagai hiburan dalam pesta, syukuran, atau acara besar rakyat betawi lainnya. Ondel-ondel diibaratkan memerankan sebagai leluhur atau nenek moyang masyarakat Betawi yang senantiasa menjaga anak cucu keturunannya.

    Ondel-ondel merupakan sebuah boneka besar yang tingginya sekitar 2,5 meter dan diameter 80cm, biasa dibuat dari anyaman bambu yang diatur sedemikian rupa hingga dapat dipikul dari dalam dengan mudah. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sementara untuk ondel-ondel perempuan dengan warna putih. Pertunjukan ini memiliki banyak persamaan dengan beberapa pertunjukan kebudayaan daerah lain.

    Untuk asal-usulnya, ondel-ondel memiliki beberapa versi. Versi yang terkenal adalah awal mulanya ondel-ondel berfungsi sebagai figur penolak bala, penjaga masyarakat setempat, dan pengusir roh-roh halus yang bergentayangan. Sekarang ini ondel-ondel biasanya digunakan hanya untuk sarana hiburan menambah semaraknya pesta-pesta masyarakat Betawi. Dengan hebatnya, ondel-ondel mampu tetap eksis ditengah arus modernisasi yang begitu besar di Jakarta dan masih umum kita temui di sekitar wilayah ibukota.

    Dalam perkembangannya, ondel-ondel kini tidak hanya ditampilkan sebagai sosok warisan leluhur. Karena sering digunakan sebagai sarana hiburan, ondel-ondel kini sering ditampilkan berbarengan dengan musik atau kadang juga diiringi juga dengan pertunjukan pencak silat. Ondel-ondel sekarang ini telah dikembangkan dengan iringan musik gendang, kentongan, rebana, kecrekan, gong, biola, atau alat-alat musik lainnya dengan tujuan menambahkan semaraknya pertunjukan ondel-ondel yang ditampilkan. Mungkin dengan alasan inovasi terus-menerus tersebutlah yang membuat ondel-ondel masih tetap menjadi hiburan favorit masyarakat meskipun modernisasi hiburan sangat deras masuk ke Jakarta.

    Melihat banyaknya masyarakat yang menyukai pertunjukan ondel-ondel. Di Jakarta kini, sudah banyak sekali masyarakat yang melestarikan budaya ini dengan menampilkan ondel-ondel dengan iringan musiknya yang mengasyikkan dari jalan ke jalan. Penampil ondel-ondel di Jakarta tersebut tidak hanya melestarikan dan memelihara budaya dari leluhur, dengan mempertunjukkan ondel-ondel di sepanjang jalan, banyak masyarakat yang akan memberikan beberapa rupiah sebagai balasan terimakasih yang dapat menjadi sumber penghasilan para pemain ondel-ondel.

    Pementasan ondel-ondel ini biasanya dilakukan oleh remaja dengan usia belasan tahun. Dimana dalam satu kelompok pertunjukkan biasa diikuti oleh belasan orang, tergantung dengan lengkapnya alar musik pengiring ondel-ondel yang ditampilkan.

Monday, 5 October 2020

Kritik Marx Terhadap Kritik Agama Feuerbach

     Bagi Marx kritik Feuerbach terhadap Hegel memecahkan sebuah teka-teki, bagaimana Hegel dapat menghayati rasionalitas menyeluruh dalam pengetahuan absolut, padahal yang rasional hanya pikirannya, sedangkan dunia nyata tidak sesuai sama sekali dengan pemikirannya itu. Begitu pula filsafat negara Hegel mendua; di satu pihak Hegel menjunjung tinggi cita-cita revolusi Prancis, di lain pihak ia mengkonsepsikan sebuah negara otoriter. Bagi Marx, Feuerbach menunjuk pada kesalahan dasar filsafat Hegel, filsafat Hegel secara hakiki terbalik. Hegel membuat subjek menjadi objek dan objek menjadi subjek. Realitas pertama bagi Hegel bukan manusia nyata melainkan roh, padahal roh adalah buah pikiran manusia, jadi yang nyata adalah manusia. Begitu pula bagi Hegel subjek atau pelaku negara yang sebenarnya adalah roh dan para warga negara hanyalah wayang yang menurut Hegel tidak menyadari kalau yang dilakukan hanyalah apa yang merupakan pernyataan dari roh. Padahal warga negaralah yang merupakan kenyataan dasar negara. Kritik Feuerbach sukses membebaskan Marx dari pesona Hegel.

    Dapat dikatakan bahwa kritik agama Feuerbach menjadi titik tolak seluruh pemikiran Marx kemudian. Menggaris bawahi Feuerbach, Marx menulis "Manusia yang membuat agama, bukan agama yang membuat manusia" [ICHR, MEW 1, 378]. Agama adalah perealisasian hakikat manusia dalam angan-angan saja, jadi tanda bahwa manusia bekum berhasil merealisasikan hakikatnya. Agama adalah tanda keterasingan manusia dari dirinya sendiri.

    Menurut Marx, manusia yang dibicarakan Feuerbach adalah abstrak. Feuerbach selalu bicara tentang si "manusia" tetapi si manusia itu tidak ada kejelasannya. Yang ada hanyalah orang-orang yang kongkret yang hidup pada zaman tertentu dan sebagai warga masyarakat tertentu. Harusnya manusia jangan dilepaskan dari masyarakat itu sendiri dan negara di mana ia hidup, "Manusia itulah dunia manusia, negara, masyarakat" [ICHR, MEW 1, 378;

    Maka kalau manusia hanya dapat merealisasikan diri secara semu, mesti dicari sebabnya dalam keadaan masyarakat. Manusia mulai merealisasikan diri hanya dalam khayalan agama karena struktur masyarakat nyata tidak mengizinkannya merealisasikan diri dengan sungguh-sungguh.Karena dunia nyata mulai mengasingkan manusia dari kelemahan dirinya sendiri, ia membangun suatu kerajaan dalam angan-angan. Karena dalam masyarakat nyata manusia menderita, ia mengharapkan mendapat keselamatan di surga. Dengan demikian Marx menemukan sesuatu yang penting, gama hanyalah tanda keterasingan manusia tetapi bukan dasarnya. Keterasingan manusia dalam agama hanyalah ungkapan keterasingan yang lebih mendalam.

     Agama hanyalah sebuah pelarian karena realitas memaksa manusia untuk melarikan diri. "Agama adalah realisasi hakikat manusia dalam angan-angan karena hakikat manusia tidak mempunyai realitas yang sungguh-sungguh" [ICHR, MEW 1, 378]. Salah satu kutipan Marx yang terkenal adalah, "Agama adalah sekaligus ungkapan penderitaan yang sungguh-sungguh dan protes terhadap penderitaan yang sungguh-sungguh. Agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagai mana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Ia adalah candu rakyat".

    Tetapi apabila agama hanyalah gejala sekunder keterasingan manusia, kritik tidak boleh berhenti pada agama. Kritik agama bagi Marx hanya "merusak bunga-bunga khayalan pada rantai", tetapi bukan "agar manusia membawa rantai yang tanpa khayal, tanpa harapan, melainkan agar ia membuang rantai dan memetik bunga baru yang hidup". Yang perlu disobek bukan bunga (agama) yang menghiasi rantai, melainkan rantai itu sendiri, rantai adalah keadaan buruk manusia yang membuatnya melarikan diri ke agama. Maka menurut Marx kritik agama harus menjadi kritik masyarakat. Mengkritik agama saja adalah percuma karena tidak menghapus hal yang melahirkan agama itu sendiri. Bukan agama yang harus dikritik, melainkan masyarakat. Kutipan terakhir Marx dalam menggaris bawahi Kritik Agama Feuerbach: "Kritik surga berubah menjadi kritik dunia, kritik agama menjadi kritik hukum, kritik teologi menjadi kritik politik" [ICHR, MEW 1, 379].

Kritik Agama Lugwig Feuerbach

    Pada tahun 1841, terbit sebuah karya utama Ludwig Feuerbach, Das Wesen de Christentums (Hakikat Agama Kristiani). Marx amat terkesan dengan buku itu. Melihat kembali ke waktu itu, Engels pada masa tuanya menulis "Kami semua waktu itu menjadi penganut Feuerbach!" (Engels 1973, II, 136). Karena itu kita akan membahas secara singkat pokok filsafat Feuerbach.

Kritik Agama Feuerbach

    Leudwig Feuerbach (1804-1872) semula ingin menjadi pendeta Protestan. Di Berlin ia mengikuti kuliah-kuliah Hegel. Namun makin lama, ia makin tidak dapat menerima pemikiran Hegel. Menurut Hegel, dalam kesadaran manusia, Allah mengungkapkan diri. Kita merasa berpikir dan bertindak menurut kehendak atau selera kita, tetapi di belakangnya "roh semesta" mencapai tujuannya. Meskipun di levelnya sendiri manusia bebas dan mandiri, tetapi melalui kemandirian itu roh semesta menyatakan diri. Hegel memakai kata "kelihaian Akal Budi" (die List der Vernunft). Melalui keputusan-keputusan dan usaha-usaha manusia masing-masing, roh semesta mencapai tujuannya. Seakan-akan kita ini adalah wayang, wayang-wayang dengan kesadaran, pengertian, dan kemauan sendiri, namun sebenarnya tetap berada dalam kekuasaan sang dalang. Jadi roh semesta adalah pelaku sejarah sebenarnya, tapi seakan-akan dari belakang layar. Para pelaku yakni manusia tidak sadar bahwa mereka didalangi olehnya.

    Gagasan inti Hegel itu adalah sasaran kritik Feuerbach. Menurut Feuerbach, Hegel memutarbalikkan kenyataan. Hegel memberi kesan seakan-akan yang nyata adalah Allah (yang tidak kelihatan), sedangkan manusia (yang kelihatan) hanyalah wayangnya. Padahal yang nyata adalah manusia. Bukan manusia itu dipikiran Allah, melainkan Allah adalah pikiran manusia. Bagi Feuerbach, manusia inderawi tidak dapat dibantah, sedangkan roh semesta hanya sebagai objek pikiran manusia. Dengan demikian Feuerbach juga membantah klaim Hegel bahwa ia "mengangkat" agama ke dalam rasionalitas filsafat. Menurut Feuerbach filsafat roh justru sebaliknya merupakan kemenangan agama terhadap rasionalitas, karena tetap diandaikan begitu saja bahwa Allah adalah yang pertama, dan manusia yang kedua. Bahwa Allah oleh Hegel disebut sebagai "roh semesta" tidak mengubah kenyataan itu. Maka inti kritik Feuerbach adalah bahwa hakikat filsafat Hegel sebenarnya hanyalah kepercayaan agama yang terselubung.

    Inti kritik tersebut adalah bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi sebaliknya Tuhan adalah ciptaan angan-angan manusia. Agama hanyalah sebuah proyeksi manusia.  Allah, malaikat, surga, dan neraka tidak mempunyai kenyataan pada dirinya sendiri, melainkan hanya merupakan gambar-gambar yang dibentuk oleh manusia tentang dirinya sendiri, angan-angan manusia terhadap dirinya sendiri. Agama bagi Feuerbach tidak lebih daripada proyeksi hakikat manusia. Namun kemudian manusia lupa bahwa angan-angan itu ciptaannya sendiri. Sama dengan kritik nabi-nabi terhadap penyembahan berhala (manusia mengerjakan sepotong kayu menjadi patung lalu meenyembah ciptaan tangannya sendiri sebagai dewa) hanya perbedaannya adalah model Tuhan yang baru tidak dibentuk menggunakan tangan melainkan dikembangkan dalam pikiran sehingga sulit untuk dibantah ketidakkekuasaannya dan akhirnya tidak disadari lagi oleh manusia itu sendiri. Yang sebenarnya hanya dibentuk dalam pikiran dianggap mempunyai eksistensi pada dirinya sendiri, sehingga manusia lalu merasa takut dan perlu menyembah Tuhan hasil pikiran mereka sendiri.

    Feuerbach menguraikannya begini, "Agama, adalah kelakuan manusia terhadap dirinya sendiri atau lebih tepatnya terhadap hakikatnya sendiri, tetapi perlakuan terhadap hakikatnya adalah seperti terhadap makhluk lain. Hakikat manusia yang dipisahkan dari batas-batas manusia individual menjadi nyata, jasmaniah, diobjektifkan, artinya dipandang dan dipuja sebagai makhluk lain yang berbeda darinya. Karena itu semua ciri hakikat ilahi adalah ciri hakikat manusia" dikutip dari Weger 121.

    Agama menurut Feuerbach sendiri memang memiliki nilai positif karena memang merupakan hakikat manusia. Dalam agama manusia dapat melihat siapa dirinya, misalnya apakah dia berkuasa, kreatif, baik, berbelaskasihan, dapat saling menyelamatkan dan sebagainya. Namun celakanya, manusia mulai lupa bahwa itu semua adalah proyeksi manusiawi itu sendiri.  Manusia mulai terkesan dengan proyeksi itu sehingga ia menganggapnya sebagai realitas yang mandiri. Mengingat proyeksi itu adalah sebuah contoh hakikat manusia sempurna dimana kita selalu mencita-citakan diri secara sempurna, dapat dimengerti bahwa manusia menjadi selalu takut dan menyembah realitas agama yang sebenarnya tidak real itu (bagaikan orang yang kaget melihat sosok gagah nan sempurna berhadapan dengannya, sebelum ia menyadari bahwa ia berhadapan dengan cermin dari hakikat sosok sempurna yang ia cita-citakan sendiri). Tetapi itu mulai membawa dampak negatif karena berarti manusia tidak berusaha menjadi dirinya sendiri sesuai dengan hakikatnya, ia malah pasif mengharapkan berkah dari proyeksi sosok sempurna dari dirinya. Dengan demikian, agama mengasingkan manusia dari dirinya sendiri. Melalui sosok Tuhan, apa yang sebenarnya merupakan potensi-potensi yang perlu direalisasikan manusia justru hilang, karena manusia mulai enggan untuk mengusahakannya, melainkan mengharapkannya datang dari sana. Secara sederhana, bukannya berusaha menjadi seutuh dan sesempurna mungkinnya manusia, sebaliknya mengharapkan akan menerima keutuhan dan kesempurnaannya secara instan di surga.

    Oleh karena itu Feuerbach berpendapat bahwa manusia hanya dapat mengakhiri keterasingannya dan menjadi diri sendiri apabila ia meniadakan agama, ia harus "menarik agama ke dalam dirinya sendiri". Manusia harus membongkar agama agar ia dapat merealisasikan potensi-potensi. Teologi harus menjadi antropologi.

Sunday, 4 October 2020

Sindikalisme

(1)    Meskipun anarkisme tidak survive sebagai gerakan politik dalam abad ini, akan tetapi ia cukup mempengaruuhi bentuk sosialisme yang sampai permulaan abad ini menjadi saingan kuat Marxisme di beberapa negara latin terutama di Prancis dan Spanyol, yaitu sindikalisme.

(2)    Sindikalisme merupakan aliran paling radikal gerakan buruh sebelum Perang Dunia 1. Sindikalisme dapat dianggap sebagai perkawinan silang antara Marxisme dan anarkisme. Sindikalisme memakai prinsip "aksi langsung" melalui pemboikotan, sabotase, pemberontakan, dan pemogokan umum. Ia hendak memasukkan perjuangan kelas langsung ke dalam bidang ekonomi. Sindikalisme, setia pada akar-akarnya yang anarkistik (karena itu juga disebut anarko-sindikalisme) menolak adanya negara, dan karena itu tidak menyetujui perjuangan kaum sosialis di dalam parlemen melalui sebuah partai buruh. Partai buruh tidak memiliki arti dalam sindikalisme. Kalau tujuan pendek Marxisme adalah nasionalisasi industri, karena sindikalisme membenci segala bentuk negara, sindikalisme turut menolak sosialisme negara. Mereka ingin menyerahkan industri kepada serikat-serikat buruh. Sosialisme alat-alat produksi tidak ditetapkan dari atas oleh negara sosialis, melainkan dari bawah oleh kaum buruh itu sendiri. Masalah-masalah diluar masing-masing perusahaan pun dipecahkan tidak melalui negara, melainkan melalui serikat buruh, secara lokal melalui "bursa kerja" atau "komune", dan secara regional maupun nasional melalui federasi-federasi buruh.

(3)    Akar sindikalisme sampai ke Proudhon dan Bakunin dan juga ada pengaruh dari usaha-usaha Owen. Memiliki bendera hitam-merah, campuran dari bendera merah kaum Marxis dan bendera hitam kaum anarkis. Sindikalisme mencapai masa kejayaannya di Prancis pada 1890 dan 1914. Pada waktu itu setengah dari seluruh serikat buruh Prancis menganut sindikalisme. Sindikalisme juga meluas ke Italia, Spanyol, dan Amerika Latin. Sindikalisme mengembangkan semangat juang tinggi, menekan usaha pribadi buruh dan peran elite perjuangan. Ia menentang perang dan bersifat anti-militeratis. Sesudah perang dunia 1, mayoritas penganut sindikalisme bergabung dalam partai-partai komunis. Hanya di Spanyol sindilaisme baru berakhir sampai ia diberantas oleh Jendral Franco, pemenang perang saudara 1936-1939.

Friday, 2 October 2020

Tugas Sosial Dasar (Melepaskan Diri Dari Narkotika)

    Dalam kesempatan kali ini saya ingin membahas soal mengapa masyarakat harus berusaha keluar dari lingkaran adiksi narkotika. Terimakasih saya ucapkan kepada teman-teman khususnya Bang Bulls, Bang Pice, dan Bang Uwa sebagai narasumber yang pengalamannya akan saya tulis di sini. Yang akan saya bahas adalah, "mengapa harus keluar dari adiktif narkotika?", menurut Bang Pice yang dulu sempat menjadi pecandu narkoba selama 12 tahun, dirinya mengaku sudah pernah merasakan semua jenis narkotika yang beredar gelap di Indonesia. Bang Pice mengatakan bahwa alasannya memutuskan ingin berhenti dari kecanduannya adalah, dirinya muak melihat kehidupan sosial pada lingkungan lamanya yang berisi dengan lansia-lansia berumur 50-60 tahun, namun masih aktif sebagai pemakai. Hal tersebut membuatnya merasa untuk tidak ingin lebih terjerumus hingga akhirnya menjadi seperti contoh buruk yang ia sebutkan di atas, ia pun memutuskan batas usianya untuk menjadi seorang junkies. Bang Pice tidak ingin kalau akhirnya ia harus meninggal dunia dalam keadaan masih kecanduan zat adiktif tersebut. Setelah sukses berhenti dari kecanduannya, ia pun sudah membulatkan diri untuk tidak menyentuh narkotika lagi.

    Sementara menurut Bang Uwa, alasan pribadinya ingin keluar dari kecanduan narkotika, adalah sebuah rasa jenuh sekaligus memuakkan karena kerap dijadikan sebagai contoh figur yang tidak baik di lingkungan sekitarnya. Para orang tua di sekitar tempat tinggalnya mengibaratkan dirinya sebagai sosok gagal yang tidak boleh dicontoh sebagai nasihat kepada anaknya. Ditambah lagi, Bang Uwa sempat mengalami koma dikarenakan pemakaian eteb (putau) yang berlebihan. Sosok Bang Uwa telah merasakan betapa berbahayanya dampak dari efek samping narkotika, meski masih dapat tertolong dari koma, Bang Uwa harus menjalani sisa hidupnya dengan penyakit Hepatitis C, sebuah penyakit yang sering ditemukan pada junkies (pemakai) dikarenakan penggunaan jarum suntik yang tidak steril.

    Derasnya peredaran gelap narkotika memang sebuah menjadi rahasia umum di Indonesia. Dulu di era 1990-an dimulai dengan trendnya narkotika jenis eteb atau putau, seiring berjalannya waktu para junkies mulai mengetahui betapa berbahayanya barang tersebut dikarenakan jumlah kematian yang cukup besar dan rasa sakit yang ditimbulkan saat kecanduan yang teramat sakit, maka mulai mereduplah trend putau sebagai Raja Narkoba di Indonesia. Dengan turunnya peminat putau, ditambah lagi pada tahun 1998, pemerintah mulai gencar seruan-seruan anti narkoba dimana-mana. Di sisi lain, para bandar putau sebelumnya yang otomatis kehilangan mata pencaharian dan omset dalam jumlah besar terpaksa memutar akal untuk mendapat penghasilan baru. Maka di tahun 1998-an, dengan meredupnya putau bukan berarti telah selesai peredaran narkotika di Indonesia, para bandar justru memanfaatkan kondisi untuk menawarkan barang baru. Sabu, awalnya dipasarkan dengan iming-iming untuk meredakan gejala kecanduan putau. Para edeb (bandar) memasarkan sabu kepada yang dulunya konsumen putau, dengan iming-iming gejala sakau yang lebih ringan dan penggunaan yang tidak harus dengan jarum suntik. Dan sabu sukses menggantikan putau di pasaran. Siklus putau dan sabu hanyalah sebuah contoh dari dua zat terlarang dalam siklus lingkaran peredaran narkotika di Indonesia. Masih banyak zat adiktif lain yang ditawarkan para bandar dengan iming-iming masing-masing yang mereka tawarkan seperti ganja dengan kealamiannya, kokain dengan dopaminnya, LSD dengan tingkat imajinasinya, dan lain-lain sebagai kategori narkoba kelas atas. Di kelas bawah pun tak kalah banyaknya narkotika yang memiliki iming-iming kenikmatan masing-masing untuk ditawarkan kepada para junkies seperti tramadol, eximer, esilgan, riklona, alprazolam, dan sebagainya yang menyebabkan peredaran zat adiktif di pasaran mungkin akan sangat sulit untuk dihapuskan dari Indonesia.

    Narasumber terakhir, Bang Bulls (saya sendiri tidak tahu nama aslinya), adalah seorang yang dulu dianggap senior dalam dunia hitam. Dirinya pernah menjalani masa hukuman di dalam penjara sebanyak tiga kali karena narkotika. Bahkan, terlibat dalam tindak kriminal lainnya. Hal yang membuatnya memutuskan untuk menjauhi narkotika adalah saat ia masuk penjara untuk yang ketiga kalinya. Ia bercerita bahwa, saat itu istrinya sedang mengandung anak pertamanya dan dirinya terpaksa harus mendekam di dalam penjara, merasa sakit hati karena tidak bisa mendampingi istrinya mengandung dan melahirkan. Akhirnya di dalam penjara, ia memutuskan untuk mengakhiri rasa cintanya terhadap zat adiktif. Ia mulai memakai segala jenis narkotika yang bisa ia didapat di dalam sel seperti sabu, ekstasi, ganja, dan lain-lain dalam jumlah besar dengan tujuan untuk menciptakan rasa jenuh dalam dirinya terhadap zat adiktif. Ditambah, saat ia keluar dari penjara, melihat anaknya yang selama ini tidak ia lihat, tiba-tiba sudah mampu berlari, Bang Bulls merasakan rasa sakit di dalam hatinya karena merasa tidak memiliki andil apapun sebagai seorang ayah karena terjerat masalah narkotika, dan memutuskan bahwa memang sudah saatnya untuk berhenti menjadi seorang junkies

    Dari kisah dan pengalaman tiga tokoh di atas kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa narkotika dapat menimbulkan dampak nyata seperti terjebak dalam kecanduan hingga usia tua, dianggap buruk oleh lingkaran sekitar, kehilangan waktu untuk orang yang disayang, masuk penjara, bahkan dapat menyebabkan kematian. Narkoba memang diciptakan dengan tujuan medis dan memiliki kelebihan tertentu apabila digunakan dalam dosis yang tepat. Namun, apabila digunakan dengan sembarangan, dengan dosis asal-asalan, dan hanya untuk tujuan rekreasi/hiburan, maka akan menjadi hal yang membahayakan. Untuk teman-teman yang belum menyentuh zat-zat adiktif tersebut maka jangan sekali-sekali mencoba menggunakannya, dan untuk teman-teman yang mungkin sudah terlanjur menjadi junkies, tentu kalian sudah memahami betapa berbahayanya barang yang kalian gunakan, semoga dapat cepat mampu keluar dari kecanduan narkotika, jangan sampai tertangkap polisi kalau anda bukan orang kaya, dan jangan menunda-nunda niat untuk berhenti atau rehabilitasi. Sekian dari saya, terimakasih.

Thursday, 1 October 2020

Tugas Sosial Dasar (Mendeskripsikan Diri)

    Perkenalkan, nama saya Rahiel Hafizh. Saya dilahirkan di Jakarta pada 28 Maret 2002. Saya bisa dipanggil El. Saya adalah orang betawi, karena saya lahir di Jakarta dan orang tua saya juga asli dari Jakarta. Bapak saya bekerja sebagai pegawai swasta di RSIA Bunda Menteng dan ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga. Hobi saya ada di bidang olahraga, khususnya di bidang beladiri. Saya menekuni beladiri karate dari kelas 1 SD, dan mulai mengikuti Taekwondo setelahnya. Pendidikan saya dimulai dari TKIT Buah Hati Jakarta, lalu dilanjutkan ke SDI PB Soedirman, SMPN 20 Jakarta, kemudian SMAN 104 Jakarta. Saat saya SMA, saya berniat melanjutkan kuliah di jurusan Pendidikan Olahraga UNJ. Tetapi, saya gagal lolos dalam SBMPTN dan orangtua saya melarang saya untuk kuliah di luar Jakarta karena mereka merasa tanggung jawab saya di rumah cukup besar. Jadi saya mencoba mendaftar di STKIP Jendral Sudirman jurusan Pendidikan Olahraga. Meski saya lolos masuk di STKIP, namun saya tidak mendaftar ulang karena mempertimbangkan akkreditasi kampusnya yang belum mencapai A. Akhirnya saya mendaftar di Universitas Gunadarma jurusan Informatika.

    Untuk soal kepribadian, saya termasuk orang yang sangat ekstrovert, dalam artian saya bukan tipe yang betah berlama-lama di dalam suatu ruangan, itu bisa membuat saya stress. Saya lebih suka berada di luar, berkenalan dengan berbagai macam orang baru, berbicara dengan orang lain secara langsung, dan tidak melulu berhadapan dengan dinding di sekitar saya yang membuat saya merasa tertekan. Menurut penilaian orang lain, saya sering disebut sebagai tipe orang yang sembarangan. Alasannya adalah karena saya lebih suka terang-terangan terhadap semua hal, baik dalam ucapan maupun perbuatan, jadi di lingkaran pergaulan saya akan benar-benar menunjukkan apabila ada yang saya sukai dan tidak saya sukai, dan sambil menyesuaikan dengan peraturan di sekitar saya berada, saya tetap akan bertindak sesuai yang saya mau atau saya tidak mau. Bapak membentuk saya sebagai anak yang harus selalu terbuka sejak kecil, dan beginilah saya sekarang.

    Alasan saya memilih jurusan informatika meskipun saya tipe orang ekstrovert dan kurang betah berada di dalam ruangan adalah, saya tidak ingin menjalani sepanjang hidup saya dengan skill yang itu-itu saja. Jadi, saat kebanyakan orang memilih jurusan sesuai potensi mereka, saya memilih jurusan yang justru saya awam di bidang tersebut. Jadi saya bisa menambah ilmu baru di dunia perkuliahan, sambil tetap meneruskan olahraga saya baik di luar kampus maupun di organisasi kampus.

    Prestasi atau pencapaian saya kebanyakan berasal dari bidang non akademik, meski saya pernah beberapa kali memenangkan lomba aritmatika tingkat daerah saat saya kecil. Seiring dengan bertambahnya usia, saya merasa lebih suka berkompetisi di bidang fisik. Pencapaian pertama saya di bidang karate adalah memenangkan juara ke-3 pada Kejuaraan Karate se-Jakarta Timur pada tahun 2012, lalu saya tingkatkan dengan memenangkan juara ke-3 pada Kejuaraan Karate se-DKI Jakarta di tahun 2016, dan saya kembangkan lagi dengan memenangkan juara ke-2 pada Kejuaraan Karate se-Jawa dan Bali di tahun 2017, terakhir saya memenangkan juara ke-1 pada Kejuaaran Karate se-Asia Tenggara yang juga menjadi pencapaian terbesar saya. Saya harap di Gunadarma, saya bisa mendapat banyak ilmu baru di bidang informatika dan juga terus meningkatkan pencapaian saya di bidang olahraga. 

    Sekian pendeskripsian diri milik saya, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

 

Anarkisme


(1) Pertama saya sebutkan saja di sini dua aliran yang sebenarnya tidak termasuk Marxisme, tetapi berkembang dalam komunikasi, dan sering dalam konfrontasi dengan Marxisme, serta menjadi saingannya dalam merebut hati kaum buruh, yaitu anarkisme dan sindikalisme

(2) Pokok-pokok yang disepakati semua aliran anarkisme dapat disebutkan dengan cepat. Anarkisme menolak segala bentuk negara, dalam arti lembaga pusat masyarakat dengan wewenang dan kemampuan untuk memaksakan ketaatan pada undang-undang. Cita-cita anarkisme adalah anarkhia, keadaan tanpa kekuasaan pemaksa. Anarkisme tidak membedakan bentuk kenegaraan yang positif dan negatif. Seluruh bentuk negara seperti monarki, republik, maupun sosialisme (seperti kemudian diciptakan di negara-negara komunis) pada hakikatnya sama saja, semua memiliki kekuasaan yang pemaksa, undang-undang, polisi, mahkamah pengadilan, penjara, angkatan bersenjata, dan sebagainya oleh karena itu harus ditolak. Asalkan perekonomian ditata dengan adil, itulah harapan anarkisme, maka lembaga-lembaga tersebut tidak diperlukan lagi. Masyarakat yang kesatuannya dipaksakan oleh negara harus diganti dengan komunitas bebas para individu dan kelompok masyarakat. Apabila keadaan sudah adil, maka kejahatan, kriminalitas, dan perang akan hilang dengan sendirinya. Paksaan moral sudah cukup untuk menjamin kerjasama dan pembagian hasil kekayaan masyarakat secara adil serta agar perjanjian-perjanjian ditepati dan orang tidak melakukan kejahatan.

Perlu diperhatikan bahwa menurut Marx pun negara sebenarnya merupakan ekspresi keterasingan manusia, tepatnya keterasingannya dari sifat manusia yang sosial. Apabila dasar keterasingan itu yaitu hak milik pribadi sudah dihapus, negara tidak diperlukan lagi. Tetapi dalam kenyataan, kaum Marxis berpendapat bahwa keadaan di mana negara menjadi layu masih jauh dan baru dapat tercapai setelah revolusi sosialis dan kediktatoran proletariat. Sementara negara masih nyata dan dianggap perlu, kaum Marxis selalu menganggap kaum anarkis sebagai lawan.

(3) Tokoh utama anarkisme adalah Mikhail Bakunin (1814-1876), seorang bangsawan Rusia yang sebagian besar hidupnya tinggal di Eropa Barat. Bakunin ikut serta dalam berbagai kegiatan pemberontakan di Eropa. Ia memimpin kelompok anarkis dalam Intersosiale I dan sering terlibat pertengkaran hebat dengan Karl Marx . Pada tahun 1872, ia dikeluarkan dari kelompok itu. Sejak Bakunin, anarkisme dianggap dengan tindak kekerasan dan pembunuhan. Pembunuhan terhadap kepala negara, serangan bom atas gedung-gedung milik negara, dan perbuatan terorisme lainnya diperbolehkan oleh anarkisme sebagai upaya untuk menggerakkan massa untuk memberontak. Bendera kaum anarkis pimpinan Bakunin adalah hitam, berbeda dengan bendera merah milik kaum Marxis. Karl Marx menolak anarkisme dengan tajam. Menurutnya, tujuan dekat revolusi sosialis bukan masyarakat tanpa negara melainkan sosialisme negara dalam tangan proletariat yang kemudian dilaksanakan oleh Lenin, tetapi dengan proletariat digantikan oleh partai-partai komunis. Sebaliknya, Bakunin dalam anarkismenya mencela konsep sosialisme negara sebagai bentuk despotisme baru. Baik Marx maupun Lenin menolak terorisme individual. Dari perspektif Marxisme, anarkisme termasuk voluntarisme, yaitu anggapan bahwa revolusi secara hakiki bergantung pada kehendak revolusioner dan bukan dari syarat-syarat objektif.

Tugas Ilmu Sosial Dasar (Agama Dalam Masyarakat)

      Menurut saya, agama lumayan berpengaruh besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Bagi warga negara Indonesia, yang merupakan warga d...