Perlawanan
Fidel Castro
Berseragam militer, topi hijau,
brewok tebal, cerutu di tangan. Seperti itulah gambaran Fidel Castro direkam
banyak orang. Ada sebuah lelucon tentang ketenaran The Beatles, band
besar asal Inggris yang berbunyi “Jika
ada orang yang tak pernah mendengar nama The Beatles, maka mungkin orang
tersebut telah meninggal dunia sebelum The Beatles lahir atau orang itu
baru saja datang dari planet Mars ke Bumi”. Barangkali seperti itu juga halnya
dengan Fidel Castro. Sejak 1959 ia telah menjadi Perdana Menteri Kuba, dan
sejak 1976 ia menjabat sebagai presiden Kuba hingga 2008. Ia adalah pemimpin
sebuah negara terlama di bumi.
Dulu, bersama Presiden Soekarno,
ia menjalankan roda Gerakan Non-Blok. Sejak pemerintahan Amerika Serikat
dipimpin oleh Eisenhower pada 1960, Fidel telah mengacungkan jari tengahnya kepada
negeri “adikuasa dunia” tersebut. Ketika George Washington Bush menjabat
sebagai pemimpin Amerika Serikat pun, Fidel tetap dengan lantang berkata, “Imperialisme
harus dilawan!”.
Seperti itulah sosok Fidel Castro,
layaknya monumen yang enggan runtuh ketika yang lainnya berjatuhan dihadapan
Amerika Serikat, dimulai dari Deng Xiaoping, Peron, Khrushchev, Franco, Tito,
bahkan Soekarno. Ia tetap percaya diri memegang semangat nilai yang ia percayai
sejak pertama kali menyerang barak militer pemerintah Kuba saat ia masih
berusia dua puluhan. Padahal, dari seberang lautan yang mengelilingi negerinya,
berganti-ganti presiden Amerika Serikat menghujaninya dengan hujatan,
menegaskan bahwa dirinya merupakan sebuah kesalahan yang harus disingkirkan,
Amerika Serikat bahkan melegalkan setiap upaya pembunuhan untuknya, bahkan
membiayai orang-orang untuk menyerang negaranya. Menghadapi negara adikuasa
dunia tersebut, Fidel Castro tetap berdiri, seraya tersenyum dan mengatakan “Jangan
salahkan aku jika aku belum mati sekarang”.
Krisis ekonomi melanda negerinya
karena Amerika Serikat menghantamnya dengan embargo ekenomi. Dengan idealis yang
dianut, ia membatasi setiap kebutuhan hidup sekaligus menyeimbangkan
harga-harga hingga tidak ada persaingan pasar. Dan ia tetap mampu berbangga hati
bahwa negerinya adalah sebuah negeri dimana seluruh rakyatnya bisa mendapatkan
pelayanan kesehatan dan pendidikan yang sangat baik secara gratis. Bahwa
negaranya memiliki dokter yang teramat banyak yang siap membantu negara manapun
yang tertimpa bencana, bahwa negaranya memiliki sarjana-sarjana dengan kualitas
mumpuni.
Dalam pidato di depan para
generasi muda di negaranya, ia dengan meyakinkan berkata “Tak ada anak muda
lain di dunia ini yang terdidik sebagaimana kalian terdidik, tidak ada anak
muda lain di dunia ini yang memiliki banyak ilmuwan, spesialis, insinyur,
profesor, guru, dan dokter sebanyak kalian di negeri mereka, Kita adalah negara
dengan jumlah guru paling banyak per kapita di seluruh dunia. Apakah kita akan
menyerah? Ingatlah tak ada anak muda lain di dunia ini yang memiliki begitu
banyak sumber daya!”. Jika ada pemimpin sebuah negara yang berkali-kali
nmengalami percobaan pembunuhan dan lebih dari empat dekade menjadi musuh
Amerika Serikat, tentu ia adalah pemimpin yang menarik. Fidel Castro,
membuktikan hal itu.
Central Inteligency Agency (CIA)
berulang kali memelopori upaya pelenyapan Fidel dari muka bumi. Segala mecam
ditempuh, mulai dari memberi racun dan bahan peledak pada cerutu yang biasa ia
hisap, memberi dosis kematian LSD, memasukan Potasium Sianida pada susu
coklatnya, memberikan infeksi TBC di pakaiannya, ancaman-ancaman pembunuhan
pada setiap kunjungan kenegaraan, sampai memberi obat perontok rambut dan
jenggot untuk merosotkan wibawa dan kharismanya.
Pada 26 Juli 1953, jauh sebelum
Fidel menjabat sebagai Perdana Menteri atau Presiden, di Fort Moncada ia
menyatakan ada enam masalah yang sesegara mungkin harus diselesaikan di Kuba.
Masalah-masalah itu adalah masalah tanah, perumahan, industrialisasi, kesehatan,
pendidikan, dan pengangguran. Dan saat ia mulai menjabat, masalah-masalah
tersebut benar-benar diselesaikan dengan hasil yang menakjubkan.
Kesehatan di Kuba, misalnya jika
dibandingkan dengan Indonesia yang telah merdeka jauh sebelum Fidel menjabat.
Angka kematian bayi di Kuba hanya 5,8 per seribu penduduk, dimana di Indonesia kita
memiliki 40 per seribu penduduk. Usia harapan hidup di Kuba mencapai angka 76
tahun, dibanding Indonesia yang hanya mencapai angka 66 tahun. Kuba pada tahun
2003 saja telah memiliki 64.000 dokter mumpuni yang siap melayani 12 juta
penduduknya, sementara Indonesia hanya memiliiki 34.000 dokter yang dipaksa
melayani 210 juta penduduk di tahun itu.
Masing-masing keluarga di Kuba juga diberikan fasilitas dokter
pribadi yang memantau kesehatan para anggota keluarga. Seluruh pusat pelayanan
kesehatan seperti klinik atau rumah sakit tersedia bagi masyarakat Kuba dengan
gratis disertai teknologi canggih. Untuk pendidikan kedokteran, Kuba memiliki Latin American School of Medicine yang
malah menyediakan beasiswa untuk masyarakat miskin dari seluruh Amerika Latin, Afrika,
bahkan Amerika Serikat. Tingkat angka buta huruf di Kuba bahkan nol persen.
Revolusi Kuba
Fidel Castro dapat menjadi pemimpin Kuba tidak lain adalah karena
ia sukses menjatuhkan presiden Kuba yang saat itu merupakan seorang korup nan
diktator, Fulgencio Batista. Dalam rentang 1955-1956, Castro membentuk
organisasi revolusinya yang terdiri dari veteran Moncada yang berasal dari AS,
Kuba, dan berbagai negara Amerika Latin lainnya, Di Meksiko, mereka menyewa
tanah peternakan di luar kota untuk latihan militer. Mereka mendapat disiplin
latihan dari seorang shli perang gerilya Spanyol, Alberto Bayo. Di Moroko,
Alberto menunjukkan integritasnya yang membuatnya dipercaya Castro untuk
melatih pasukan pemberontak yang dibentuknya. Che Guevara, yang baru saja
bergabung dengan Castro di Meksiko menjadi murid kesayangan Alberto lantaran
bakat perang gerilyanya.
Pada September 1956, Castro membeli kapal untuk membawa rombongannya
kembali ke Kuba dari Meksiko untuk menggulingkan pemerintahan Batista. Saat itu
ia telah menjadi pemimpin organisasi yang sangat terlatih dan terorganisir
namun tak memiiki kapal dan persenjataan yang memadai. Akhirnya ia mendapat
kapal bernama Granma, sebuah kapal kecil dengan kapasitas hanya 10 orang.
November 1956, Granma dipaksa untuk mengangkut 82 orang plus peralatan dari
Meksiko menuju Kuba.
Baru pada 2 Desember 1956, Castro mendarat di Playa de los
Colorados, lima belas mil dari titik pendaratan yang direncanakan. Itupun
bukanlah pendaratan yang baik, karena kapal tak bisa benar-benar sampai ke
pantai dan tak ada dermaga, mereka terpaksa bongkar muatan di rawa penuh lumpur
dan belukar dalam keadaan mabuk laut dan harus mengangkut peralatan bawaan
mereka, ditambah dengan serombongan tentara Kuba bawahan Batista yang menyambut
mereka dengan serangan. Tentu saja rombongan revolusioner itu dibombardir, Che Guevara
terkena luka tembakan. Fidel memutuskan memecah rombongan menjadi
kelompok-kelompok kecil dan berlindung di kawasan hutan menuju pegunungan
Sierra Maestra. Dari 82 orang, hanya 12 yang selamat. Mereka yang selamat
adalah yang berhasil bertahan di perkebunan tebu tanpa makanan dan air selama lima hari
dan terus berusaha menuju Sierra Maestra. Castro kemudian bertemu Crescencio
Perez, seorang bandit dari Sierra Maestra yang kemudian bergabung dengan Castro
sekaligus menjadi letnan kepercayaannya. Perez membantu mereka memperoleh makanan
dari petani, juga meminjamkan alat-alat pendukung seperti senjata dan amunisi.
Serangan pertama mereka lancarkan ke pos luar tentara di La Plata.
Mereka berhasil menggulung pos tentara tersebut sekaligus merebut senjata,
amunisi, dan makanan untuk dibawa ke pegunungan. Fidel terus membangun
tentaranya, ia memimpin perampokan atas para tuan tanah untuk kemudian
dibagikan kepada para petani miskin. Ia memotong sumber utama pendapatan rezim
Batista dengan membakar kebun-kebun tebu. Perkebunan tebu yang pertama Castro
bakar adalah perkebunan milik keluarganya sendiri. Dengan banyaknya masyarakat
yang memutuskan untuk bergabung dengan Castro, ia terus menambah kekuatan di
Sierra Maestra dan melancarkan serangan demi serangan hingga menembus pusat
kota. Ditambah, para serdadu muda angkatan laut Kuba yang merasa kecewa
dengan Batista, memilih untuk bergabung dengan Castro.
Perang kemudian berlanjut dengan kendali berada di tangan pasukan revolusi.
Wilayah demi wilayah berhasil Castro taklukan mulai dari Guisa, Maffo,
Contramaestre, dan lain-lain. Sementara Castro melakukan penyerangan, Che
Guevara dan Camilio Cienfuegos terfokus memimpin sisa pasukan menuju Havana. Dalam
perjalanannya, Cienfuegos berhasil menaklukan Yaguajay dimana ia kemudian dijuluki
The Hero of Yaguajay. Sedangkan Che menang dengan gelimang dalam pertempuran di
Santa Clara.
Di akhir bulan Desember, Batista terdesak dan mengirim Jendral
Cantillo untuk berunding dengan Castro, namun Castro menolak perundingan karena
salah satu poin yang diajukan adalah membiarkan Batista pergi. Sementara yang
Fidel Castro inginkan adalah Batista harus ditangkap dan diadili karena
kejahatan selama masa diktatornya terhadap rakyat Kuba.
Tanggal 1 Januari 1959 pukul dua lewat sepuluh dini hari, setelah
mendapatkan begitu banyak tekanan dari revolusioner yang dipimpin oleh Castro.
Fulgencio Batista, seorang diktator kejam Kuba yang korup, akhirnya melarikan
diri bersama keluarga dan antek-anteknya menuju Republik Dominika dengan
pesawat.
Fidel Castro berhasil menggulingkan Batista, ia kemudian mengambil
alih pemerintahan Kuba. Dan sejak hari itu, 1 Januari diperingati sebagai Hari
Revolusi Kuba. Awal kekuasaannya, pada Mei 1959 Fidel Castro mengeluarkan
Undang-Undang Reforma Agraria dan mendirikan National Institute of Agrarian
Reform. Lahan-lahan yang luasnya lebih dari 460 hektar akan dibagikan kepada
para petani yang tidak memiliki tanah. Sementara tanah pertanian milik orang
asing dibatasi dengan ketat.