Thursday, 1 October 2020

Anarkisme


(1) Pertama saya sebutkan saja di sini dua aliran yang sebenarnya tidak termasuk Marxisme, tetapi berkembang dalam komunikasi, dan sering dalam konfrontasi dengan Marxisme, serta menjadi saingannya dalam merebut hati kaum buruh, yaitu anarkisme dan sindikalisme

(2) Pokok-pokok yang disepakati semua aliran anarkisme dapat disebutkan dengan cepat. Anarkisme menolak segala bentuk negara, dalam arti lembaga pusat masyarakat dengan wewenang dan kemampuan untuk memaksakan ketaatan pada undang-undang. Cita-cita anarkisme adalah anarkhia, keadaan tanpa kekuasaan pemaksa. Anarkisme tidak membedakan bentuk kenegaraan yang positif dan negatif. Seluruh bentuk negara seperti monarki, republik, maupun sosialisme (seperti kemudian diciptakan di negara-negara komunis) pada hakikatnya sama saja, semua memiliki kekuasaan yang pemaksa, undang-undang, polisi, mahkamah pengadilan, penjara, angkatan bersenjata, dan sebagainya oleh karena itu harus ditolak. Asalkan perekonomian ditata dengan adil, itulah harapan anarkisme, maka lembaga-lembaga tersebut tidak diperlukan lagi. Masyarakat yang kesatuannya dipaksakan oleh negara harus diganti dengan komunitas bebas para individu dan kelompok masyarakat. Apabila keadaan sudah adil, maka kejahatan, kriminalitas, dan perang akan hilang dengan sendirinya. Paksaan moral sudah cukup untuk menjamin kerjasama dan pembagian hasil kekayaan masyarakat secara adil serta agar perjanjian-perjanjian ditepati dan orang tidak melakukan kejahatan.

Perlu diperhatikan bahwa menurut Marx pun negara sebenarnya merupakan ekspresi keterasingan manusia, tepatnya keterasingannya dari sifat manusia yang sosial. Apabila dasar keterasingan itu yaitu hak milik pribadi sudah dihapus, negara tidak diperlukan lagi. Tetapi dalam kenyataan, kaum Marxis berpendapat bahwa keadaan di mana negara menjadi layu masih jauh dan baru dapat tercapai setelah revolusi sosialis dan kediktatoran proletariat. Sementara negara masih nyata dan dianggap perlu, kaum Marxis selalu menganggap kaum anarkis sebagai lawan.

(3) Tokoh utama anarkisme adalah Mikhail Bakunin (1814-1876), seorang bangsawan Rusia yang sebagian besar hidupnya tinggal di Eropa Barat. Bakunin ikut serta dalam berbagai kegiatan pemberontakan di Eropa. Ia memimpin kelompok anarkis dalam Intersosiale I dan sering terlibat pertengkaran hebat dengan Karl Marx . Pada tahun 1872, ia dikeluarkan dari kelompok itu. Sejak Bakunin, anarkisme dianggap dengan tindak kekerasan dan pembunuhan. Pembunuhan terhadap kepala negara, serangan bom atas gedung-gedung milik negara, dan perbuatan terorisme lainnya diperbolehkan oleh anarkisme sebagai upaya untuk menggerakkan massa untuk memberontak. Bendera kaum anarkis pimpinan Bakunin adalah hitam, berbeda dengan bendera merah milik kaum Marxis. Karl Marx menolak anarkisme dengan tajam. Menurutnya, tujuan dekat revolusi sosialis bukan masyarakat tanpa negara melainkan sosialisme negara dalam tangan proletariat yang kemudian dilaksanakan oleh Lenin, tetapi dengan proletariat digantikan oleh partai-partai komunis. Sebaliknya, Bakunin dalam anarkismenya mencela konsep sosialisme negara sebagai bentuk despotisme baru. Baik Marx maupun Lenin menolak terorisme individual. Dari perspektif Marxisme, anarkisme termasuk voluntarisme, yaitu anggapan bahwa revolusi secara hakiki bergantung pada kehendak revolusioner dan bukan dari syarat-syarat objektif.

No comments:

Post a Comment

Tugas Ilmu Sosial Dasar (Agama Dalam Masyarakat)

      Menurut saya, agama lumayan berpengaruh besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Bagi warga negara Indonesia, yang merupakan warga d...