Saturday, 31 October 2020

Kematian Sebuah Ideologi Politik

 "Ada hantu berkeliaran di Eropa, hantu komunisme"

    Begitulah kata-kata pembukaan Manifesto Komunis, dokumen Marxisme paling termasyhur yang ditulis Friedrich Engels dan Karl Marx pada akhir 1847. Dan benar saja, dalam abad ke-20 komunisme telah menjadi hantu umat manusia. Selama sebagian besar abad ini, komunisme menjadi salah satu kekuasaan politik dan ideologis paling dahsyat di dunia. Sepertiga umat manusia pernah hidup di bawah benderanya. Hampir tak ada negara di dunia ini dimana partai komunis tidak pernah secara langsung atau tidak langsung mencoba merebut kekuasaan, Indonesia pun pernah mengalaminya.

    Namun pada akhir abad ke-20, hantu komunisme tampak kehilangan wahyunya. Kiranya pukulan pertama yang diderita oleh komunisme internasional pada masa kejayaannya adalah kehancuran Partai Komunis Indonesia sebagai buntut kudeta Gerakan 30 September. Sepuluh tahun kemudian, pada 1975, komunisme mencapai kemenangannya yang terakhir di Vietnam. Namun, itu juga merupakan saat kemunduran kekuatan komunisme yang tidak dapat disembunyikan lagi. Di Eropa Barat, beberapa partai komunis didahului oleh Partai Komunis Italia, memutuskan untuk membuang Leninisme, inti sari komunisme, dan menggantikannya dengan sesuatu yang baru yang mereka sebut Euro-komunisme.

    Di tahun 80-an, komunisme dan Marxisme mulai semakin kelihatan sebagai kekuatan masa lampau yang kini semakin ketinggalan zaman. Buku-buku Marx, Lenin, dan Mao Tse-dong yang selama tahun 60-an sampai 70-an memenuhi toko-toko buku di sekitar universitas-universitas di Barat, sudah masuk kembali ke gudang. Sedangkan di Asia dan Afrika, sukuisme, regionalisme, dan fundamentalisme agama semakin menyingkirkan Marxisme dan komunisme sebagai ideologi berbagai perjuangan revolusioner.

    Akhir sistem kekuatan komunis datang dengan sangat cepat. Pada 1989, dalam hanya beberapa bulan satu demi satu rezim-rezim komunis di Eropa Timur runtuh, pada awalnya Polandia, Bulgaria, Jerman Timur, Cekoslovakia, dan akhirnya Rumania. Pakta warsawa bubar dalam sekejap. Dua tahun kemudian Partai Komunis di Uni Soviet harus melepas monopoli kekuasaannya yang telah menjadi ciri khas Soviet selama 73 tahun. Pada akhir 1991, Uni Soviet sebagai negara adikuasa kedua pecah menjadi 14 republik independen. Hanya menyisakan China, Laos, Korea Utara, Vietnam, dan Kuba dimana rezim-rezim komunis masih berhasil berpegang pada kekuasaan. Namun mereka berhadapan dengan pilihan dilematis, mengubah perekonomian menjadi ekonomi pasar dengan meninggalkan sosialisme, atau semakin ketinggalan zaman mirip fosil dari Jurassic Park.

Pemikiran Marx Tetap Menantang

    Meskipun kekuatan komunisme sudah pudar dan pancaran intelektual pemikiran Marx telah meredup, pemikiran yang telah sedemikian terasa di sebagian besar dunia ini tetap menuntut perhatian. Saat tantangannya tidak lagi terasa secara langsung, pemikiran yang masuk ke dalam Marxisme dan komunisme justru perlu diteliti mengapa sampai dapat sedemikian berpengaruh.

    Hal itu khususnya berlaku pada pemikiran Marx itu sendiri, pemikirannya bukan saja menjadi inspirasi dasar Marxisme sebagai ideologi perjuangan kaum buruh, bukan saja menjadi komponen inti dalam ideologi komunisme. Pemikiran Marx juga menjadi salah satu rangsangan besar bagi perkembangan sosiologi, ilmu ekonomi, dan filsafat kritis. Sementara ini banyak kategori pemikiran Marx sudah memasuki kawasan filsafat dan ilmu-ilmu sosial, bahkan dalam dikursus politik, sosial, ekonomi, dan budaya kaum intelektual hampir di seluruh dunia.

    Ada satu unsur yang khas bagi pemikiran Marx, pemikirannya yang tidak tinggal dalam wilayah teori, melainkan sebagai ideologi Marxisme menjadi sebuah kekuatan sosial bahkan politik. Marx mengembangkan sebuah pemikiran yang pada dasarnya filosofis namun kemudian menjadi teori perjuangan sekian banyak generasi berbagai gerakan pembebasan. Bahkan sekaliber nama Immanuel Kant sebagai filosof paling berpengaruh 500 tahun lalu pun hanya dikenal oleh para filosof dan segelintir kalangan intelektual. Tetapi nama Marx telah dikenal di mana-mana dan dalam semua lapisan masyarakat, serta menjadi simbol perjuangan sekurang-kurangnya bagi dua milyar orang.

    Marx sendiri memang tidak pernah memahami pemikirannya sebagai usaha teoritis-intelektual semata-mata, melainkan sebagai usaha nyata dan praktis untuk menciptakan kondisi-kondisi kehidupan yang lebih baik. Marx yang selalu menuntut agar filsafat menjadi praktis, yang dalam artiannya agar filsafat menjadi sebuah pendorong perubahan sosial.

    Marx merumuskan programnya itu dalam tesis No. 11 tentang Feuerbach yang termasyhur, "Para filosof hanya memberikan interpretasi yang berbeda kepada dunia. Yang kita perlukan adalah mengubahnya!" [TF, MEW 3,7]. Karena itu pemikiran Marx tetap merupakan tantangan bagi filsafat yang perlu dikaji secara kritis dan dijadikan bahan dikursus.

No comments:

Post a Comment

Tugas Ilmu Sosial Dasar (Agama Dalam Masyarakat)

      Menurut saya, agama lumayan berpengaruh besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Bagi warga negara Indonesia, yang merupakan warga d...