Dalam kesempatan kali ini saya ingin membahas soal mengapa masyarakat harus berusaha keluar dari lingkaran adiksi narkotika. Terimakasih saya ucapkan kepada teman-teman khususnya Bang Bulls, Bang Pice, dan Bang Uwa sebagai narasumber yang pengalamannya akan saya tulis di sini. Yang akan saya bahas adalah, "mengapa harus keluar dari adiktif narkotika?", menurut Bang Pice yang dulu sempat menjadi pecandu narkoba selama 12 tahun, dirinya mengaku sudah pernah merasakan semua jenis narkotika yang beredar gelap di Indonesia. Bang Pice mengatakan bahwa alasannya memutuskan ingin berhenti dari kecanduannya adalah, dirinya muak melihat kehidupan sosial pada lingkungan lamanya yang berisi dengan lansia-lansia berumur 50-60 tahun, namun masih aktif sebagai pemakai. Hal tersebut membuatnya merasa untuk tidak ingin lebih terjerumus hingga akhirnya menjadi seperti contoh buruk yang ia sebutkan di atas, ia pun memutuskan batas usianya untuk menjadi seorang junkies. Bang Pice tidak ingin kalau akhirnya ia harus meninggal dunia dalam keadaan masih kecanduan zat adiktif tersebut. Setelah sukses berhenti dari kecanduannya, ia pun sudah membulatkan diri untuk tidak menyentuh narkotika lagi.
Sementara menurut Bang Uwa, alasan pribadinya ingin keluar dari kecanduan narkotika, adalah sebuah rasa jenuh sekaligus memuakkan karena kerap dijadikan sebagai contoh figur yang tidak baik di lingkungan sekitarnya. Para orang tua di sekitar tempat tinggalnya mengibaratkan dirinya sebagai sosok gagal yang tidak boleh dicontoh sebagai nasihat kepada anaknya. Ditambah lagi, Bang Uwa sempat mengalami koma dikarenakan pemakaian eteb (putau) yang berlebihan. Sosok Bang Uwa telah merasakan betapa berbahayanya dampak dari efek samping narkotika, meski masih dapat tertolong dari koma, Bang Uwa harus menjalani sisa hidupnya dengan penyakit Hepatitis C, sebuah penyakit yang sering ditemukan pada junkies (pemakai) dikarenakan penggunaan jarum suntik yang tidak steril.
Derasnya peredaran gelap narkotika memang sebuah menjadi rahasia umum di Indonesia. Dulu di era 1990-an dimulai dengan trendnya narkotika jenis eteb atau putau, seiring berjalannya waktu para junkies mulai mengetahui betapa berbahayanya barang tersebut dikarenakan jumlah kematian yang cukup besar dan rasa sakit yang ditimbulkan saat kecanduan yang teramat sakit, maka mulai mereduplah trend putau sebagai Raja Narkoba di Indonesia. Dengan turunnya peminat putau, ditambah lagi pada tahun 1998, pemerintah mulai gencar seruan-seruan anti narkoba dimana-mana. Di sisi lain, para bandar putau sebelumnya yang otomatis kehilangan mata pencaharian dan omset dalam jumlah besar terpaksa memutar akal untuk mendapat penghasilan baru. Maka di tahun 1998-an, dengan meredupnya putau bukan berarti telah selesai peredaran narkotika di Indonesia, para bandar justru memanfaatkan kondisi untuk menawarkan barang baru. Sabu, awalnya dipasarkan dengan iming-iming untuk meredakan gejala kecanduan putau. Para edeb (bandar) memasarkan sabu kepada yang dulunya konsumen putau, dengan iming-iming gejala sakau yang lebih ringan dan penggunaan yang tidak harus dengan jarum suntik. Dan sabu sukses menggantikan putau di pasaran. Siklus putau dan sabu hanyalah sebuah contoh dari dua zat terlarang dalam siklus lingkaran peredaran narkotika di Indonesia. Masih banyak zat adiktif lain yang ditawarkan para bandar dengan iming-iming masing-masing yang mereka tawarkan seperti ganja dengan kealamiannya, kokain dengan dopaminnya, LSD dengan tingkat imajinasinya, dan lain-lain sebagai kategori narkoba kelas atas. Di kelas bawah pun tak kalah banyaknya narkotika yang memiliki iming-iming kenikmatan masing-masing untuk ditawarkan kepada para junkies seperti tramadol, eximer, esilgan, riklona, alprazolam, dan sebagainya yang menyebabkan peredaran zat adiktif di pasaran mungkin akan sangat sulit untuk dihapuskan dari Indonesia.
Narasumber terakhir, Bang Bulls (saya sendiri tidak tahu nama aslinya), adalah seorang yang dulu dianggap senior dalam dunia hitam. Dirinya pernah menjalani masa hukuman di dalam penjara sebanyak tiga kali karena narkotika. Bahkan, terlibat dalam tindak kriminal lainnya. Hal yang membuatnya memutuskan untuk menjauhi narkotika adalah saat ia masuk penjara untuk yang ketiga kalinya. Ia bercerita bahwa, saat itu istrinya sedang mengandung anak pertamanya dan dirinya terpaksa harus mendekam di dalam penjara, merasa sakit hati karena tidak bisa mendampingi istrinya mengandung dan melahirkan. Akhirnya di dalam penjara, ia memutuskan untuk mengakhiri rasa cintanya terhadap zat adiktif. Ia mulai memakai segala jenis narkotika yang bisa ia didapat di dalam sel seperti sabu, ekstasi, ganja, dan lain-lain dalam jumlah besar dengan tujuan untuk menciptakan rasa jenuh dalam dirinya terhadap zat adiktif. Ditambah, saat ia keluar dari penjara, melihat anaknya yang selama ini tidak ia lihat, tiba-tiba sudah mampu berlari, Bang Bulls merasakan rasa sakit di dalam hatinya karena merasa tidak memiliki andil apapun sebagai seorang ayah karena terjerat masalah narkotika, dan memutuskan bahwa memang sudah saatnya untuk berhenti menjadi seorang junkies.
Dari kisah dan pengalaman tiga tokoh di atas kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa narkotika dapat menimbulkan dampak nyata seperti terjebak dalam kecanduan hingga usia tua, dianggap buruk oleh lingkaran sekitar, kehilangan waktu untuk orang yang disayang, masuk penjara, bahkan dapat menyebabkan kematian. Narkoba memang diciptakan dengan tujuan medis dan memiliki kelebihan tertentu apabila digunakan dalam dosis yang tepat. Namun, apabila digunakan dengan sembarangan, dengan dosis asal-asalan, dan hanya untuk tujuan rekreasi/hiburan, maka akan menjadi hal yang membahayakan. Untuk teman-teman yang belum menyentuh zat-zat adiktif tersebut maka jangan sekali-sekali mencoba menggunakannya, dan untuk teman-teman yang mungkin sudah terlanjur menjadi junkies, tentu kalian sudah memahami betapa berbahayanya barang yang kalian gunakan, semoga dapat cepat mampu keluar dari kecanduan narkotika, jangan sampai tertangkap polisi kalau anda bukan orang kaya, dan jangan menunda-nunda niat untuk berhenti atau rehabilitasi. Sekian dari saya, terimakasih.
No comments:
Post a Comment