Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo (sebuah campuran budaya dari berbagai etnis). Jakarta yang merupakan ibukota Indonesia menarik banyak pendatang baik dari dalam maupun luar nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk nusantara, Jakarta juga banyak menyerap budaya dari luar negeri seperti Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.
Orang Betawi memiliki kepribadian dengan jiwa sosial yang sangat tinggi, sehingga kadang dalam beberapa hal cenderung terkesan berlebihan dan tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama mereka yang terlihat dari tegasnya para orang tua menanamkan ajaran agama kepada anak-anaknya. Mereka juga menghormati budaya yang diwariskan dari para leluhurnya. Terlihat dari perilaku masyarakatnya yang masih menyukai permainan lenong, ondel-ondel, gambang kromong, pencak silat, dan lain-lain.
Ondel-ondel Salah Satu Warisan Budaya Betawi
Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan masyarakat Betawi yang sering ditampilkan sebagai hiburan dalam pesta, syukuran, atau acara besar rakyat betawi lainnya. Ondel-ondel diibaratkan memerankan sebagai leluhur atau nenek moyang masyarakat Betawi yang senantiasa menjaga anak cucu keturunannya.
Ondel-ondel merupakan sebuah boneka besar yang tingginya sekitar 2,5 meter dan diameter 80cm, biasa dibuat dari anyaman bambu yang diatur sedemikian rupa hingga dapat dipikul dari dalam dengan mudah. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sementara untuk ondel-ondel perempuan dengan warna putih. Pertunjukan ini memiliki banyak persamaan dengan beberapa pertunjukan kebudayaan daerah lain.
Untuk asal-usulnya, ondel-ondel memiliki beberapa versi. Versi yang terkenal adalah awal mulanya ondel-ondel berfungsi sebagai figur penolak bala, penjaga masyarakat setempat, dan pengusir roh-roh halus yang bergentayangan. Sekarang ini ondel-ondel biasanya digunakan hanya untuk sarana hiburan menambah semaraknya pesta-pesta masyarakat Betawi. Dengan hebatnya, ondel-ondel mampu tetap eksis ditengah arus modernisasi yang begitu besar di Jakarta dan masih umum kita temui di sekitar wilayah ibukota.
Dalam perkembangannya, ondel-ondel kini tidak hanya ditampilkan sebagai sosok warisan leluhur. Karena sering digunakan sebagai sarana hiburan, ondel-ondel kini sering ditampilkan berbarengan dengan musik atau kadang juga diiringi juga dengan pertunjukan pencak silat. Ondel-ondel sekarang ini telah dikembangkan dengan iringan musik gendang, kentongan, rebana, kecrekan, gong, biola, atau alat-alat musik lainnya dengan tujuan menambahkan semaraknya pertunjukan ondel-ondel yang ditampilkan. Mungkin dengan alasan inovasi terus-menerus tersebutlah yang membuat ondel-ondel masih tetap menjadi hiburan favorit masyarakat meskipun modernisasi hiburan sangat deras masuk ke Jakarta.
Melihat banyaknya masyarakat yang menyukai pertunjukan ondel-ondel. Di Jakarta kini, sudah banyak sekali masyarakat yang melestarikan budaya ini dengan menampilkan ondel-ondel dengan iringan musiknya yang mengasyikkan dari jalan ke jalan. Penampil ondel-ondel di Jakarta tersebut tidak hanya melestarikan dan memelihara budaya dari leluhur, dengan mempertunjukkan ondel-ondel di sepanjang jalan, banyak masyarakat yang akan memberikan beberapa rupiah sebagai balasan terimakasih yang dapat menjadi sumber penghasilan para pemain ondel-ondel.
Pementasan ondel-ondel ini biasanya dilakukan oleh remaja dengan usia belasan tahun. Dimana dalam satu kelompok pertunjukkan biasa diikuti oleh belasan orang, tergantung dengan lengkapnya alar musik pengiring ondel-ondel yang ditampilkan.
No comments:
Post a Comment