Meskipun Stirner seringkali terlupakan, pencetusan awal materialisme memang biasanya tersisihkan untuk kepentingan sikap individualis anarkis. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas beberapa filosofi materialisme Stirner. Dengan menggunakan gambaran materialisme Marxis sebagai dasar pertama dalam menjelaskan sejarah materialisme, dan dari sini kita akan membahas materialisme Stirner dan bagaimana ia berbeda dari materialisme Marx dan Engels, meskipun mereka murid-murid Hegel, Stirner dianggap lebih anti-Hegelian dibanding Marx.
Bagian Satu
Pembeda utama antara filosofi materialis radikal dengan Max Stirner dan Karl Marx adalah kolektifisme dan individualisme. Materialisme Marx kebanyakan merupakan materialisme kolektif yang berfokus pada kegiatan manusia. Produk dari kerja manusia dan hubungan yang melibatkan pekerja ketika menjalani tugas-tugas dalam pekerjaannya. Bagi Stirner, materialisme merupakan filosofi individualis yang mengobservasi manusia, pemikiran manusia, dan juga kemanusiaan.
Bagian Dua
Abstrak komodifikasi (menjadikan sesuatu sebagai komoditas) dan mistifikasi. Bagi Marx, bahkan kebutuhan-kebutuhan pokok seperti makanan dan air telah dijadikan komoditas, bahkan lebih jauh lagi, kehidupan kita telah ditransformasi menjadi sebuah komoditas belaka. Kegiatan yang dilakukan manusia untuk bertahan hidup saat ini terikat dengan keuntungan individu lain, sehingga hubungan sosial antara kaum kapitalis dan proletar, pekerja dan produk telah diubah dari sesuatu yang materialis dan konkret, menjadi abstrak immaterialis. Kesimpulan dari abstraksi ini adalah apa yang dulunya merupakan materi, adalah komodifiksi kegiatan kerja menjadi seperti mainan bagi balita, menggantung diatas kepala pekerja. Produk dsri hasil kerja pekerja menjadi tidak terjangkau untuk pekerja itu sendiri, yang mana menyebabkan para pekerja harus terus-menerus mengejar impian kenaikan upah dan tunjangan yang sulit tercapai.
Bagi Stirner, komodifikasi, mistifikasi, dan abstraksi sesungguhnya telah terjadi. Namun Stirner lebih berfokus pada manusia dan pemikirannya. Ide bahwa manusia telah dikomodifikasi sepertinya merupakan area dimana Marx dan Stirner saling setuju. Sebab dari komodifikasinya lah yang memisahkan mereka. Dalam pandangan Max Stirner, pemikiran hanyalah produk dari otak, oleh karenanya manusia dalam pemikirannya merupakan hal-hal fisik. Pemikiran adalah individualis. Negara, masyarakat, kemanusiaan, tempat ibadah, dan lainnya berkonotasi "kelompok" daripada "individu" yang mewakili satu fisik.
Stirner menolak keras ide bahwa institusi-institusi tersebut sebagai sesuatu yang tidak lebih daripada "ketakutan pikiran", konsep imateri dan abstrak yang pantasnya disingkirkan daripad diproklamasikan sebagai "Diriku sendiri adalah kebendaan". Dalam penolakan langsung bahwa kelompok-kelompok demiikian merupakan materialis, Stirner menegaskan bahwa manusia itu sendiri sebagai individu merupakan material jasmani dan nyata, tidak seperti konsep abstrak non-fisik misalnya masyarakat, yang telah disetujui terbangun atau terkonsep dalam pikiran dimana lebih dari sekedar konsep sementara.
Dari sini cukup adil untuk menyatakan bahwa Stirner menganggap bahwa materialisme Marxis tidak dapat diterima sebagai kegiatan bekerja, produk, dan hal-hal terkait bukanlah material sejak awal. Oleh karenanya hal-hal tersebut tidak dapat diabstraksi. Karena hal-hal tersebut sudah merupakan bentuk abstraksi bagi Stirner. Kita dapat menganggap Stirner menolak Platonisme, tetapi Stirner mengkategorikannya pada tingkat yang lebih tinggi. Hal ini kita anggap saja bahwa penggunaan istilah ego pada nominalisme sosialnya sendiri namun mengabstrasikan mistifikasi upaya komodifikasi manusia. Bagi Stirner, ide bahwa umat manusia memiliki tugas untuk mewujudkan kemanusiaan yang lebih sempurna. Ide ini telah memperbudak manusia.
Dimana manusianya Marx dikomodifikasikan dalam hubungannya dengan produksi. Stirner menyatakan bahwa manusia dikomodifikasikan terus-menerus oleh ide kesempurnaan ilahiah dari kemanusiaan. Dimana hal ini dibebankan pada ibaratnya sesuatu yang dalam angan namun tidak terjangkau dan politik masyarakat. Negara dan lembaga yang tidak berbentuk. Sehingga kemanusiaan telah menjadi abstraksi.
Tidak lagi berpijak pada realitas, namun lebih kepada konsep utopia yang tidak mungkin tercapai. Dalam substraksi tersebut kemanusiaan kita telah dicuri dari kita sendiri, dan nyatanya telah menjadi musuh. Apa yang sebelumnya begitu pasti bagi manusia telah menjadi mistis abstrak dan tidak hanya dibebankan pada manusia, namun juga dapat digunakan sebagai hukuman apabila manusia tidak dapat memenuhi kaidah kesempurnaannya.

No comments:
Post a Comment